Jumat, 19 Jun 2026 04:04 WIB

Kenaikan PPN 12 Persen: Tingkatkan Pendapatan Negara atau Beban Rakyat?

  • Penulis :
  • | Kamis, 21 Nov 2024 14:21 WIB
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA, Dr Abid Muhtarom. (Foto:  dok. Dr Abid Muhtarom for jatimnow.com)
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA, Dr Abid Muhtarom. (Foto: dok. Dr Abid Muhtarom for jatimnow.com)

jatimnow.com - Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 12 persen telah menjadi isu yang hangat diperbincangkan.

Di satu sisi, pemerintah menganggap kebijakan ini penting untuk meningkatkan pendapatan negara demi pembiayaan pembangunan. Namun di sisi lain, kebijakan ini membawa dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, inflasi, dan stabilitas ekonomi.

Baca Juga: Inflasi Turun Drastis, Gubernur Khofifah Beri Apresiasi Pemkot Probolinggo

 

Dampak terhadap Daya Beli dan Inflasi

Ketika PPN naik, harga barang dan jasa otomatis ikut meningkat. Konsumen, sebagai pihak yang menanggung beban pajak, akan menghadapi kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini mengurangi daya beli masyarakat, terutama di kalangan menengah ke bawah. Penurunan daya beli ini dapat memicu perlambatan konsumsi domestik, yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian Indonesia.

Selain itu, kenaikan PPN berkontribusi terhadap inflasi. Harga barang yang lebih tinggi akibat pajak akan merembet ke sektor-sektor lain, menciptakan spiral inflasi yang mengurangi nilai uang masyarakat.

 

Dampak terhadap Dunia Usaha

Kenaikan PPN juga memengaruhi dunia usaha. Ketika konsumsi menurun, pengusaha kesulitan menjual produk mereka. Akibatnya, pendapatan perusahaan tertekan, dan efisiensi biaya menjadi solusi yang tak terhindarkan. Sayangnya, efisiensi ini sering kali berujung pada pengurangan tenaga kerja atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Di sisi lain, pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga akan terpukul keras. Beban operasional yang meningkat akibat kenaikan pajak membuat mereka kesulitan bertahan, apalagi bersaing.

 

Baca Juga: Inflasi Kota Kediri Mei Terkendali, Warga Diimbau Tidak Panic Buying

PPN Tertinggi di ASEAN, Tetapi Masih Rendah Secara Global?

Menteri Keuangan menyatakan bahwa PPN sebesar 12 persen masih tergolong rendah dibandingkan rata-rata dunia yang mencapai 15%. Sebagai contoh, Eropa memiliki tarif PPN yang lebih tinggi, seperti Hungaria (27%) dan Finlandia (25%).

Namun membandingkan Indonesia dengan negara maju seperti negara-negara Eropa adalah kurang tepat. Tingkat pendapatan per kapita dan kualitas pelayanan publik di negara-negara tersebut jauh lebih baik, sehingga masyarakatnya dapat menanggung beban pajak yang lebih tinggi.

Sebaliknya, di ASEAN, tarif PPN Indonesia dengan kenaikan ini menjadi salah satu yang tertinggi. Negara seperti Malaysia menetapkan PPN 6%, sedangkan Thailand hanya 7%. Dengan kondisi daya beli masyarakat yang relatif lebih lemah dibandingkan negara-negara maju, kenaikan PPN di Indonesia berpotensi memperbesar kesenjangan sosial dan ekonomi.

 

Alternatif Solusi

Kebijakan kenaikan PPN mungkin diperlukan untuk mendongkrak pendapatan negara, tetapi implementasinya harus dilakukan dengan hati-hati. Pemerintah perlu memastikan bahwa:

Baca Juga: Membaca Siklus, Menjaga Nalar Negara

1. Ada subsidi langsung bagi masyarakat miskin untuk meredam dampak inflasi.
2. Penguatan UMKM melalui insentif pajak atau akses pembiayaan murah.
3. Efisiensi anggaran negara agar pendapatan pajak benar-benar dialokasikan untuk kebutuhan publik, bukan pemborosan.
4. Kebijakan bertahap, seperti mengevaluasi dampak kenaikan secara berkala sebelum menetapkan tarif lebih tinggi.

Kesimpulannya, kenaikan PPN 12�alah kebijakan yang memiliki tujuan baik, tetapi jika tidak dikelola dengan bijak, dampaknya dapat meluas ke berbagai aspek perekonomian. Pemerintah perlu mengantisipasi konsekuensi negatifnya agar masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah, tidak menjadi korban utama.

 

Penulis : DR Abid Muhtarom (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISLA)

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.