Sabtu, 13 Jun 2026 10:58 WIB

Dulu Sempat Tenar, Batik Ponorogo Riwayatmu Kini

Ilustrasi pengrajin batik di Ponorogo (Foto: Ahmas Fauzani/jatimnow.com)
Ilustrasi pengrajin batik di Ponorogo (Foto: Ahmas Fauzani/jatimnow.com)

jatimnow.com – Tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Tak hanya dari Solo atau Yogyakarta, Bumi Reog Ponorogo juga memiliki produk batik yang khas. Bahkan industri batik Ponorogo menjadi salah satu industri tekstil tradisional yang diperhitungkan di Indonesia. 

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Pada masa kejayaannya, Ponorogo dikenal memiliki sentra batik yang tersebar di berbagai tempat. Salah satu pusat industri batik terletak di daerah yang disebut timur pasar. 

Jejak kejayaan batik Ponorogo ini diabadikan melalui nama-nama jalan yang terinspirasi dari motif-motif batik.

jatimnow.com menelusuri kawasan yang dulunya dikenal sebagai kawasan elit karena berkumpulnya para pengrajin batik. Daerah ini mencakup Kelurahan Kertosari di Kecamatan Babadan, Kelurahan Cokromenggalan di Kecamatan Ponorogo Kota, serta Kelurahan Patihan Wetan. 

Di tempat-tempat ini, sejumlah nama jalan diambil dari nama motif batik, seperti Jalan Kawung, Barong, Parang Tritis, Parang Kusumo, Cinde Wilis, dan lainnya.

Salah satu saksi hidup kejayaan batik di Ponorogo adalah Budi Santoso, putra seorang pengusaha batik di Jalan Kawung, Kelurahan Kertosari.

Budi menceritakan masa-masa ketika kawasan ini dipenuhi oleh industri batik pada tahun 1960-an. 

Baca Juga: Jelang Ramadan Harga Bapokting di Ponorogo Terpantau Stabil

Rumah-rumah besar dan industri batik berjajar di sepanjang jalan. Saat ini, meski bangunan-bangunan besar tersebut masih berdiri, alat-alat produksi batik telah hilang seiring berjalannya waktu.

“Ada 12 rumah industri pengolah batik saat itu, termasuk keluarga kami yang menjadi salah satu pengusaha batik," kata Budi, Rabu (2/10/2024).

Motif-motif batik yang diproduksi di Ponorogo sangat beragam, di antaranya Sidoluhur, Sidomulyo, Sidomukti, Parang, Sekar Jagad, dan Semen Rama. Namun, kejayaan batik Ponorogo perlahan-lahan meredup.

Puncak masa kejayaan batik Ponorogo terjadi pada 1960-an, namun sekitar 1975 banyak pengusaha batik yang gulung tikar karena menurunnya permintaan.

Baca Juga: Gelar Sunmori, Ketua PW IKA PMII Jatim Satukan Kader 11 Daerah di Telaga Ngebel

"Tahun 1975, kami terpaksa menutup produksi batik karena permintaan yang menurun drastis," ujar Budi.

Kini, jejak industri batik di Ponorogo hanya tersisa pada bangunan-bangunan tua berbentuk gudang di sekitar Kertosari dan Cokromenggalan, yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang batik di Ponorogo.

"Sebagian besar alat batik dijual karena terbuat dari tembaga dan harganya cukup mahal," pungkasnya. 

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.