Jumat, 19 Jun 2026 08:38 WIB

Ironi Politik Surabaya, Gagalnya Kaderisasi Parpol di Pemilu 2024

Eri Cahyadi dan Armuji saat menerima rekom dari PDIP (foto: Ni'am Kurniawan/jatimnow.com)
Eri Cahyadi dan Armuji saat menerima rekom dari PDIP (foto: Ni'am Kurniawan/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pertama dalam sejarah pilkada Surabaya, kontestasi lima tahunan ini hanya akan diikuti satu bakal pasangan calon (bapaslon). Hal ini menjadi ironi sekaligus pembuktian bahwa partai-partai politik di Surabaya ini gagal menelorkan kader yang memiliki daya saing sebagai penantang untuk petahana Eri Cahyadi dan Armuji.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Surokim Abdussalam menyampaikan, gerilya para aktor-aktor politik di belakang layar telah berhasil membuat seluruh partai satu komando untuk mencalonkan satu bapaslon saja. Hal ini bagi dia menjadi ironi untuk Surabaya yang notabenenya merupakan kota metropolitan.

Baca Juga: Surabaya Jadi Percontohan Program Indonesia - UEA Cegah Sampah Plastik ke Laut

"Tidak pernah terjadi sebelumnya di Surabaya. Hebat sekali aktor-aktor politik Surabaya di belakang layar itu yang kemudian membuat situasi seperti ini bisa terjadi," kata Surokim, Rabu (28/8/2024).

Surokim menjelaskan, sedikitnya ada tiga indikator yang bisa menyebabkan situasi petahana melawan bumbung kosong ini bisa terjadi. Pertama, terbentuknya koalisi besar lantaran ketentuan threshold yang harus memenuhi 20 persen dari kursi parlemen.

"Keputusan MK ini kan terlambat, jadi awalnya mendasarkan pada threshold itu yang kemudian membuat partai-partai menjalin komunikasi berkoalisi agar memenuhi syarat itu. Sehingga sebelum keputusan ini keluar, maka sudah ada komunikasi dan menjalin koalisi dan terbentuk koalisi besar," ucapnya.

Baca Juga: Tiga Rumah Pompa Baru Perkuat Ikhtiar Surabaya Menuju Kota Bebas Banjir

Kedua adalah kekuatan incumbent yang diframing dengan kondisi riil lapangan bahwa bapaslon ini terlalu kuat. Dari situ, partai-partai lain yang mulanya tidak masuk dalam koalisi menjadi gerogi dengan potensi yang dimiliki kadernya. Alhasil, mereka pun akhirnya turut merapat.

"Kemudian yang ketiga, parpol-parpol di Surabaya gagal melahirkan pemimpin-pemimpin publik alternatif yang berkualitas. Paling tidak yang bisa menyaingi atau mungkin sebanding dengan incumbent. Seolah-olah gak ada yang bisa menandingi petahana," tuturnya.

Ketiga faktor ini yang kemudian menurut dia berhasil memunculkan fenomena calon tunggal di pilwali Surabaya. Surokim mengaku kondisi ini membuat dia heran, aneh, sekaligus tidak begitu sehat bagi perpolitikan hari ini. Mengapa demikian?

Baca Juga: Armuji Ditunjuk Jadi Wali Kota Surabaya Sementara

Dia menjelaskan, jika ditarik ke arah kaca mata demokrasi elektoral, Surabaya ini merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk yang besar. Tapi, yang muncul dalam dinamikanya justru partai-partai baik parlemen dan non parlemen semua seiya sekata mufakat.

"Tapi ya fakta politik harus kita terima bahwa memang incumbent tidak salah karena memang faktanya tidak ada yang mengajukan. Pilwali Surabaya sudah selesai. Tinggal formalitas prosedural. Semuanya sudah selesai. Karena secara matematika, tidak mungkin kotak kosong bisa menang di Surabaya," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.