Minggu, 07 Jun 2026 11:28 WIB

Usaha Patchwork Ibu Rumah Tangga asal Ponorogo Tembus Pasar Internasional

Istianaturrosyidah dengan hasil karya Patchwork yang telah merambah pasar internasional. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)
Istianaturrosyidah dengan hasil karya Patchwork yang telah merambah pasar internasional. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ibu rumah tangga (IRT) asal Ponorogo, Istianaturrosyidah, berhasil mengembangkan usaha kecil menengah (UMKM) Patchwork. Kini usahanya telah merambah pasar internasional.

Warga Jalan Raya Ponorogo-Jetis ini memanfaatkan kain perca untuk menciptakan berbagai produk kerajinan tangan yang tidak hanya diminati di dalam negeri, tetapi juga hingga ke Amerika Serikat dan Malaysia.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Patchwork adalah seni kerajinan yang menggabungkan potongan kain perca dengan motif dan warna berbeda menjadi bentuk baru yang unik.pon

Di rumahnya, Istianaturrosyidah memproduksi berbagai macam produk Patchwork seperti pouch (tas kecil), tas besar, tempat kacamata, dompet, dan banyak lagi.

"Dalam sehari, saya bisa membuat hingga 10 pouch jika desainnya seragam. Namun, jika menggunakan berbagai macam kain, hanya bisa menghasilkan 2 pouch sehari," ungkap Istianaturrosyidah, yang akrab disapa Ana, Selasa (13/8/2024).

Ana memulai usahanya ini dua tahun lalu. Ia sebenarnya lulusan keperawatan dari salah satu universitas negeri di Jawa Timur. Dia belajar kerajinan Patchwork secara otodidak, berbekal pengalaman dari ayahnya yang bekerja sebagai penjahit.

"Saya belajar membuat Patchwork dari YouTube setelah pandemi COVID-19 saat saya membuat masker homemade," kata Ana.

Baca Juga: Kisah Ory dan Sherlita, Menghidupkan Spirit Kartini di Era Digital

"Awalnya, saya mengalami banyak kegagalan, bahkan hampir menyerah. Namun, saya terus mencoba hingga akhirnya berhasil,” tambahnya

Bahan dasar Patchwork yang digunakan oleh Ana adalah kain perca yang dibelinya dari perusahaan garmen dengan harga kiloan. Dalam satu bulan, Ana dapat menjual hingga 30 produk dengan omset sekitar Rp5 juta.

Produk termahalnya adalah tas besar yang dijual dengan harga Rp500 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Baca Juga: Cerita Uung Victoria Finky Arungi Laut 14 Jam demi Ibu Menyusui

Selain memasarkan produk-produknya melalui media sosial, Ana juga berhasil menarik perhatian pelanggan dari luar negeri.

"Pesanan dari Amerika Serikat dan Malaysia, bukan dari warga Indonesia, tetapi dari warga asli di sana," tambahnya.

Dengan keberhasilannya ini, Ana berharap dapat terus berkarya dan mengembangkan usahanya lebih jauh lagi. "Doakan saja agar usaha ini bisa bertahan dan terus berkembang," pungkasnya.

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.