Kisah Ory dan Sherlita, Menghidupkan Spirit Kartini di Era Digital
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Senin, 04 Mei 2026 16:55 WIB
jatimnow.com - Bayangan tentang Kartini kini tak lagi sebatas kebaya dan sanggul, melainkan transformasi digital yang menembus batas geografis. Di saat rata-rata lama sekolah perempuan di Indonesia baru menyentuh angka 8,79 tahun pada 2025, kesenjangan akses pendidikan dan teknologi masih menjadi tembok besar, terutama di wilayah timur.
Namun, melalui program Microsoft Elevate, narasi ini mulai berubah di tangan perempuan-perempuan tangguh yang membawa kecerdasan buatan (AI) ke ruang kelas dan birokrasi.
Baca Juga: Unusa Gandeng KCGI Jepang Garap Sistem Kuliah Berbasis AI
Ory Mangiri adalah potret nyata perjuangan itu. Guru ASN yang sejak 2010 mengabdi di pedalaman Nduga, Papua Pegunungan, ini harus bertaruh nyawa dan biaya puluhan juta rupiah hanya untuk mencapai lokasi tugasnya dengan pesawat kecil.
Di sana, ia tak hanya melawan keterbatasan listrik, tapi juga tradisi pernikahan dini yang merampas hak belajar siswinya.
"Anak-anak ini sedang membangun masa depan. Beri mereka waktu untuk belajar," kenang Ory saat menceritakan kegigihannya meyakinkan orang tua murid setiap Minggu di gereja.
Kini, pengabdian Ory berevolusi. Melalui pelatihan AI for Educators, ia mengadopsi Microsoft Copilot untuk menyusun rencana pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan.
Hasilnya signifikan. Murid-murid di SD Inpres Kenyam kini lebih aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Langkah ini membawa Ory meraih predikat Duta Teknologi Provinsi Papua Pegunungan 2024.
Baca Juga: XLSMART Kantongi Pendapatan Rp 11,84 Triliun
Di sisi lain, transformasi digital juga merambah kursi pemerintahan. Sherlita Ratna Dewi Agustin, Kepala Diskominfo Jawa Timur, mematahkan stereotip gender dalam kepemimpinan teknologi.
Ia menyadari bahwa mengadopsi kecerdasan buatan bukan sekadar soal gaya-gayaan, melainkan kebutuhan mendesak untuk efisiensi publik.
"Saya belajar untuk tidak membiarkan stereotip membatasi langkah. Posisi ini adalah kesempatan menunjukkan bahwa perspektif perempuan membawa nilai tambah dalam kebijakan," ujar Sherlita.
Melalui program GARUDA AI, Sherlita mendorong ribuan ASN di Jawa Timur untuk melek teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Baginya, AI bukan pengganti manusia, melainkan alat bantu agar birokrasi lebih responsif dan inklusif.
Baca Juga: Refleksi Pendidikan Nasional di Hari Pendidikan Nasional 2026
Data menunjukkan bahwa adopsi AI di sektor publik berpotensi memangkas defisit hingga 22�n menaikkan PDB riil sebesar 4%.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, yang hadir dalam acara Women at Microsoft (WAM) Indonesia, menegaskan bahwa akses setara adalah kunci. Apa yang dicita-citakan laki-laki, sejatinya bisa dijangkau perempuan asalkan keadilan akses diberikan secara merata.
Perjalanan Ory di Papua dan Sherlita di Jawa Timur membuktikan bahwa semangat Kartini tetap hidup. Mereka menunjukkan bahwa di era teknologi yang melesat cepat, perempuan bukan sekadar penonton, melainkan motor penggerak perubahan yang memastikan kemajuan tetap memiliki sentuhan manusiawi.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-84254-kisah-ory-dan-sherlita-menghidupkan-spirit-kartini-di-era-digital