Jumat, 19 Jun 2026 20:19 WIB

Ironi Politik Kota Metropolis, Akal-akalan Tiket Partai yang Tak Pasti

Eri Cahyadi tak punya sosok penantang. (dok. jatimnow.com)
Eri Cahyadi tak punya sosok penantang. (dok. jatimnow.com)

jatimnow.com - Pendaftaran pemilihan Wali Kota Surabaya kian dekat. Namun, hingga saat ini pasangan incumbent Eri Cahyadi dan Armuji masih jadi satu-satunya calon yang resmi mengantongi rekom partai.

Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya besar. Apakah sang petahana akan melaju sebagai pasangan tunggal melawan bumbung kosong di pemilu nanti?

Baca Juga: Surabaya Jadi Percontohan Program Indonesia - UEA Cegah Sampah Plastik ke Laut

Saat ini beberapa bakal calon lain memang tengah mengudara. Namun, mereka masih mondar-mandir memburu tiket partai yang statusnya belum pasti. Surat Tugas, secarik surat yang hanya akal-akalan menentukan sikap dukungan.

Melihat hal ini, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo, Madura, Surokim mengatakan, akan sangat aneh jika kontestasi ini, petahana hanya melawan bumbung kosong. Apalagi, Surabaya tergolong kota metropolis. Kota Pahlawan merupakan yang terbesar nomor dua di negeri ini.

"Dengan jumlah pemilih hampir tiga juta, kalau hanya muncul satu pasangan dan tidak ada lawan, sungguh menyedihkan dan juga aneh bin ajaib. Seolah-olah tidak ada stok tokoh pemimpin di kota Surabaya," kata Surokim saat dikonfirmasi, Rabu (24/7/2024).

Dia menambahkan, jika tidak ada sosok lain yang diusung oleh para partai politik, hal ini mencirikan fenomena paradoks demokrasi elektoral.

Fenomena ini menurut dia merupakan kritik pada partai-partai lain yang gagal melahirkan calon pemimpin publik. Ditambah lagi dengan umbaran tiket dukungan yang bisa diubah petanya sesuka hati karena statusnya yang bukan rekomendasi.

"Melawan bumbung kosong itu ironi politik di Kota Surabaya. Publik tak lagi punya alternatif pilihan. Jika betul tak ada yang berani melawan," ucapnya.

Harusnya, lanjut Surokim partai-partai politik lain tidak pragmatis dalam menghadapi pemilu ini. Mereka perlu juga membangun iklim politik yang sehat.

Baca Juga: Tiga Rumah Pompa Baru Perkuat Ikhtiar Surabaya Menuju Kota Bebas Banjir

Umpama mereka kalah dan memilih menjadi oposisi, hal itu merupakan tugas yang mulia untuk menguatkan check and balance di roda pemerintahan.

"Saya tentu masih berharap incumbent tetap ada lawan dan ada partai yang membangun koalisi melawan incumbent. Memang tinggal tersisa beberapa saja parpol yang belum menentukan dukungan. Dalam pandangan saya, jika hanya ada satu paslon untuk apa ada pemilu. Langsung saja ditetapkan dari pada buang-buang anggaran pilkada," tuturnya.

Surokim menegaskan, ketika pemilu nanti hanya melawan bumbung kosong, maka kontestasi itu tidak akan bermakna.

Proses politik menurut dia tidak akan bermakna dan hanya sekadar jadi dagelan. Kalau pun ada usaha agar calon incumbent ini tidak bisa mencapai suara 50 persen, hal itu menurut dia hanyalah ilusi.

Baca Juga: Armuji Ditunjuk Jadi Wali Kota Surabaya Sementara

"Secara substantif tak ada konstes apapun. Menang pun juga tak ada yang bisa dibanggakan. Ya memang akan kelihatan lebih mudah bagi petahana untuk menang. Alasan agar petahana susah mencapai 50+ itu hanya ilusi saja dan mengada-ada saja. Kalaupun toh ada usaha agar petahana kesulitan untuk mencapai 50+ itu juga akrobat yang tidak lucu," ujarnya.

Kontestasi melawan bumbung kosong ini memang diperbolehkan secara aturan. Namun, dia kembali menegaskan akan sangat disayangkan bila pemilu di kota besar hanya diikuti satu pasangan calon.

Ada beberapa kemungkinan kenapa sejumlah parpol saat ini masih belum menentukan arah dukungannya. Salah satunya, mereka masih menakar kekuatan dari petahana tersebut.

"Saya pikir sekuat apapun incumbent tetap saja bisa dikalahkan jika partai-partai bisa menemukan penantang yang pas, itu kalau mau serius. Tapi kalau enggak, ya akan menambah dagelan tadi," pungkasnya.

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.