Rabu, 17 Jun 2026 18:43 WIB

Tutup Grebeg Suro 2018, Warga Ponorogo Tenggelamkan Tumpeng 'Raksasa'

  • Penulis : Mita Kusuma
  • | Selasa, 11 Sep 2018 19:24 WIB
Tumpeng 'raksasa' atau Tumpeng Agung saat dilepas di 
tengah Telaga Ngebel, Selasa (11/9/2018).
Tumpeng 'raksasa' atau Tumpeng Agung saat dilepas di tengah Telaga Ngebel, Selasa (11/9/2018).

jatimnow.com – Perhelatan Grebeg Suro 2018 di Kabupaten Ponorogo seperti biasa ditutup dengan Ritual Larung Sesaji dan Risalah Doa di Telaga Ngebel, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, Selasa (11/09/2018).

Dalam ritual itu, sebanyak 10 tumpeng atau gunungan awalnya diarak mengelilingi Telaga Ngebel sepanjang kurang lebih empat kilometer. Dua diantara 10 tumpeng itu berukuran besar atau tumpeng raksasa, sedangkan delapan lainnya terbilang kecil.

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

Satu diantara dua tumpeng besar itu merupakan Tumpeng Agung atau Gunungan Utama yang berisi beras merah. Tumpeng yang satu ini akan dilarung menggunakan perahu dan ditenggelamkan di tengah telaga yang berlokasi sekitar 25 km dari pusat Kota Ponorogo ini.

Sedangkan satu tumpeng besar dan delapan tumpeng kecil lainnya biasanya disebut Buceng Purak. Sembilan tumpeng ini akan diperebutkan oleh warga di lokasi. Warga percaya, tumpeng Buceng Purak yang berisi hasil bumi dapat mendatangkan berkah.

"Ya memang berkeliling dulu. Larung Sesaji itu semacam bersih desa," kata Ketua Umum Larung Sesaji, Suryadi, ditemui di lokasi.

Sementara itu, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni juga ikut hadir dalam acara ritual itu. Ipong datang bersama istrinya, Sri Wahyuni dan beberapa Forpimda (Forum Pimpinan Daerah), serta para Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ipong menjelaskan larungan Ngebel menceritakan tentang asal muasal Telaga Ngebel. Makanya, Ada dua tumpeng besar yang disediakan.

"Satu tumpeng agung. Satunya lagi tumpeng buceng purak. Tumpeng agung yang berisi beras merah kita larung. Dan satunya untuk perebutan," terang Ipong.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Menurut Ipong, hal itu menjadi ceria asal muasal Telaga Ngebel dan Pemkab Ponorogo tetap mempertahankannya hingga saat ini.

"Agar supaya orang tahu. Orang menghargai legenda seperti ini," terangnya.

Ia juga menjelaskan, di Bali pariwisata bisa maju karena menghargai tradisi yang ada. Ia pun berkeinginan demikian, sehingga diharapkan pariwisata di Ponorogo terus maju dan berkembang.

"Ujung-ujungnya kan meningkatkan perekonomian. Seperti yang ada sekarang ini. 11 hari acara Grebeg Suro warung makan, toko suvenir dan hotel penuh," jelasnya.

Ia pun mengevaluasi, untuk sarana dan prasarana tempat wisata harus diperbaiki lagi ke depannya. Agar wisatawan terus berdatangan ke Ponorogo, sehingga tidak hanya Grebek Suro saja, tapi juga di waktu lainnya mereka berwisata di Ponorogo. (ADV/Arif Ardianto)

Baca Juga: Jembatan Merah Putih Presisi di Ponorogo Permudah Akses Warga dan Anak Sekolah

 

 

 

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.