Jumat, 19 Jun 2026 10:07 WIB

Duka Pelajar Pemain Ajang Piala Soeratin di Bojonegoro, Diduga Panpel Tidak Siap

Suasana rumah duka Tegar Dwi Prasetya usai pemakaman (Misbahul Munir/jatimnow.com)
Suasana rumah duka Tegar Dwi Prasetya usai pemakaman (Misbahul Munir/jatimnow.com)

jatimnow.com - Peristiwa meninggalnya Tegar Dwi Prasetya (13) pemain sepak bola yang bertanding di laga Piala Soeratin U-13 menyisakan duka mendalam bagi dunia persepakbolaan Indonesia.

Pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 5 Bojonegoro itu meninggal dunia usai menjalani perawatan intensif di RSUD dr Sosodoro karena tersambar petir saat bermain bola di Stadion Letjen Soedirman, pada Jumat (3/11/2023) lalu.

Baca Juga: Perkuat Pasokan Gas Nasional, PGN SOR III Kunjungi JTB Bojonegoro

Selain menyisakan duka, ada dugaan unsur kelalaian dan ketidaksiapan pantia pelaksana (panpel) pertandingan resmi di bawah naungan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) itu.

Saat kejadian diduga tidak adanya perangkat dan petugas medis untuk memberikan pertolongan, jika terjadi keadaan darurat terhadap para pemain.

Ayah almarhum Tegar, Candra Prasetya saat dijumpai awak media di rumah duka (Misbahul Munir/jatimnow.com) Ayah almarhum Tegar, Candra Prasetya saat dijumpai awak media di rumah duka (Misbahul Munir/jatimnow.com)

Hal itu disampaikan dan disaksikan langsung oleh ayah korban, Candra Prasetya, saat menyaksikan pertandingan anaknya di tribun stadion.

Candra mengungkapkan, usai anaknya tersambar petir dan tergeletak tidak sadarkan diri di tengah lapangan, Tegar tidak mendapatkan pertolongan pertama dari petugas medis.

Bahkan mirisnya mobil ambulan yang bersiaga saat keadaan darurat pun juga tidak ada. Tegar yang tidak sadarkan diri dibawa menggunakan mobil salah satu pelatihnya di sekolah sepak bola Indonesia Muda (IM).

“Saya menyaksikan sendiri, di samping lapangan. Jangankan ambulan, medis saja nggak ada. Ambulan nggak ada, medis pun dicari temen-temen nggak ada. (Tegar) Dibawa pakai mobil temen-temen Indonesia Muda ke RS Ibnu Sina,” ucap Candra saat dijumpai oleh awak media di rumah duka, Senin (6/11/2023).

Baca Juga: Hari ke 4 Lebaran, Jalur Babat–Bojonegoro Macet di Simpul Tugu Wingko

Tidak adanya perangkat medis dalam laga itu, diakui oleh Pengurus Askab PSSI Bojonegoro, Gatut Aman Sari. Ia mengakui saat kejadian medis belum datang ke Stadion Letjen Soedirman.

“Memang petugas belum datang saat itu, usai kejadian, pertandingan dihentikan. Kedua tim (yang berlaga pada saat itu) mengundurkan diri,” ujarnya singkat.

Sementara itu, mantan pengurus Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Bojonegoro Bagian Hukum, Hanafi menyatakan jika kejadian tersebut patut diduga terdapat unsur kelalaian dari pihak pelaksana (panpel) piala Suratin U-13, sebab saat hujan lebat disertai angin dan petir pertandingan tetap berlangsung dan tidak dihentikan sementara waktu.

Hanafi juga mendesak internal Askab PSSI Bojonegoro untuk membentuk tim pencari fakta atas peristiwa yang merenggut nyawa salah satu pemain.

Baca Juga: Terungkap, Ini Biang Kerok Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Bojonegoro

“Pertandingan baru berhenti setelah ada pemain tersambar petir, padahal saat itu hujan deras disertai angin. Peristiwa ini harus di usut, jika Askab Bojonegoro tidak melakukannya, maka Asprov PSSI Jatim harus turun tangan menangani ini agar faktanya jelas,” tegasnya.

Senada, salah satu pengurus SSB Indonesia Muda (IM) Budianto, juga meminta agar ada pihak yang bertanggung jawab atas meninggalnya korban.

“Seharusnya ada yang bertanggung jawab atas kejadian ini, agar peristiwa serupa tidak terulang lagi, dan ini harus menjadi yang terakhir terjadi di dunia sepak bola,” pungkasnya.

Sebelumnya, diketahui dari rekaman video yang viral di media sosial, seorang pelajar SMP yang menjadi pemain bola dalam laga Piala Soeratin U-15 tersambar petir di lapangan Stadion Letjen Soedirman Bojonegoro. Setelah mendapat perawatan di RSUD dr Sosodoro, pelajar tersebut meninggal dunia. 

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.