Minggu, 21 Jun 2026 07:22 WIB

Pemkab Ponorogo Peringati 1 Suro, Tenggelamkan Tumpeng Raksasa di Telaga Ngebel

Tumpeng raksasa yang ditenggelamkan di Telaga Ngebel. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)
Tumpeng raksasa yang ditenggelamkan di Telaga Ngebel. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)

jatimnow.com - Sebuah tumpeng raksasa ditenggelamkan di Telaga Ngebel Ponorogo, Rabu (19/7/2023). Event ini digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo untuk memperingati 1 Suro atau 1 Muharam.

Untuk 1 Suro sekarang, ada 4 tumpeng yang disediakan. Satu tumpeng merupakan tumpeng agung yang berbentuk raksasa untuk ditenggelamkan di Telaga Ngebel.

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

Selanjutnya 3 tumpeng kecil yang akan diperebutkan oleh warga. Untuk 3 tumpeng itu 1 tumpeng berisi sayur-sayuran. dua tumpeng lainnya berisi buah-buahan. Ada yang berbeda, tumpeng buah kali ini ada buah durian.

Sebelum dilarung maupun diperebutkan, tumpeng-tumpeng tersebut dikirab keliling Telaga Ngebel dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Tumpeng agung kemudian diletakkan di atas rakit untuk dilarung ke tengah telaga. Sementara 3 tumpeng sayur dan buah, diperebutkan warga untuk mendapatkan berkah.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko mengatakan bahwa larungan adalah tradisi. Tradisi turun temurun itu bentuk doa diimplementasikan dengan doa teatrikal, doa dengan simbol-simbol.

"Maka diberangkatkan dengan selawatan, tarian, tradisi luar biasa, harus uri-uri," ujar Kang Giri, sapaan akrab Sugiri Sancoko, kepada media.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Dengan tradisi itu, berarti warga Ponorogo bersyukur terhadap ketetapan Allah SWT. Tumpeng agung yang dilarung berbahan beras merah.

“Ikan butuh makan dilarung beras nasi, bagian panenan ikan makan. Ikan sehat menjadi ikan organik,” kata orang nomor satu di Ponorogo.

Dia mempunyai rencana, bahwa tradisi larungan di Telaga Ngebel bakal dibesarkan. Tidak hanya tumpeng porak 3 buah. Tetapi akan lebih banyak dengan isi yang berbeda bukan sekedar hasil bumi.

Contohnya tumpeng UMKM desa A yang mempunyai produksi keripik tempe. Di situ, ada tumpeng keripik tempe. Kemudian desa B ada manggis atau durian

Baca Juga: Jembatan Merah Putih Presisi di Ponorogo Permudah Akses Warga dan Anak Sekolah

“Biar dapat tumpeng yang banyak, kita lombakan biar ramai,” terangnya.

Dia mengaku nanti dengan begitu Pendaptan Asli Daerah (PAD) dari restribusi tiket masuk Telaga Ngebel bertambah. Pun UMKM jalan, penghasilan tambah.

“PAD jalan, UMKM jalan, wisata lancar, kesejahteraan rakyat tercapai berkah Allah SWT,” pungkasnya. (ADV)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.