Selasa, 23 Jun 2026 04:38 WIB

KPAI Soroti Simbol Gerakan Radikal saat Karnaval Siswa di Probolinggo

Screenshot status Facebook milik sebuah akun
Screenshot status Facebook milik sebuah akun

jatimnow.com - Fenomena parade TK Kartika 5 Kota Probolinggo yang menggunakan cadar dan senjata mainan palsu pada Sabtu (18/8/2018) kemarin, membuat geram Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Ketua KPAI Susanto menyayangkan pihak sekolah menggunakan anak-anak yang masih polos sebagai propaganda gerakan radikal. Seharusnya perayaan seperti ini sesuai dengan khasanah budaya Indonesia.

Baca Juga: Polusi Asap PT KTI Resahkan Warga Kelurahan Mayangan Probolinggo

"Seharusnya parade yang dilakukan kostumnya sesuai dengan adat istiadat dan khasanah budaya di Indonesia. Anak dapat salah paham terhadap simbolisasi idelogi menyimpang yang diberikan secara sengaja kepadanya," ujarnya.

Meskipun pihak sekolah berdalih tidak menanamkan paham radikalisme terhadap siswanya, namun penggunaan atribut tersebut tetap bahaya bagi sang anak.

Baca juga: Polisi Akui Foto Karnaval Kontroversial dari Probolinggo

Apapun simbol-simbol ideologi yang menyimpang tidak boleh diberikan kepada anak-anak.

"Simbolisasi kekerasan tak tepat diajarkan, ini tak boleh karena rentan anak lain meniru hal yang sama. Terutama cadar dan pakaian serba hitam sembari memegang senjata yang sering dikaitkan dengan simbol Taliban/Isis," ujarnya.

Pernyataan sekolah memberikan seragam jubah dan cadar hitam serta senjata mainan yang sudah tersedia di sekolah, menghemat biaya sewa kostum, justru membuat hal ini menimbulkan tanya publik, kenapa sekolah menyediakan seragam cadar dalam jumlah banyak.

"Pemakaian atribut cadar dan sejata dapat menjadi visualisasi yang kemudian akan terekam di memori anak. Hal ini dapat dianggap sebagai salah satu bentuk sosialisasi ajaran radikalisme melalui simbol-simbol paham tersebut dalam bentuk pakaian dan senjata," lanjutnya.

Baca Juga: Monitoring Dua SPPG, Ini Kata Satgas MBG Probolinggo

Mengingat bahayanya terhadap anak yang cukup besar, Susanto mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan segala jenis simbolisasi paham radikal sebagai bahan lucu-lucuan.

"KPAI meminta banyak pihak khususnya mereka yang menjadi pendidik di sekolah PAUD, SD, SMP dan SMA untuk tidak menjadikan simbol gerakan radikal sebagai bahan lucu-lucuan dalam pertunjukan karnaval," harapnya.

Reporter: Arry Saputra
Editor: Erwin Yohanes

 

Baca Juga: Tekan Curanmor, Polres Probolinggo Kota Perketat Pengawasan Pasar Onderdil Bekas

 

 

 

 

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.