Minggu, 21 Jun 2026 12:01 WIB

Ini Alasan TKW Banyuwangi Korban Penyiksaan Majikan Memilih Berkerja di Malaysia

Sugimin (45), suami IW, TKW asal Banyuwangi yang dianiaya majikannya di Malaysia. Foto: Eko Purwanto.
Sugimin (45), suami IW, TKW asal Banyuwangi yang dianiaya majikannya di Malaysia. Foto: Eko Purwanto.

jatimnow.com - Disamping faktor ekonomi, kesulitan berbahasa asing jadi alasan lain mengapa IW (39), memilih Malaysia menjadi tempat merubah nasib ketimbang negara lain. Sebelum berangkat, IW sempat menempuh sekolah bahasa di Kota Malang, Jawa Timur.

Hal itu diutarakan Sugimin (45), suami IW yang mengungkapkan istrinya itu sempat mengalami kesulitan saat menempuh sekolah bahasa.

Baca Juga: Diduga Menjadi Korban Penganiayaan, Ajudan Wakapolres Blitar Alami Hidung Patah

“Istri mengeluh tidak segera mahir berbahasa Inggris. Selain itu dia juga mengeluhkan penyaluran ke Singapura atau Brunei butuh waktu lama dan harus menunggu,” ujarnya, Selasa (2/05/2023).

Sugimin mengatakan, setelah merestui kepergian sang istri bekerja ke luar negeri, dirinya sempat menyarankan istrinya itu untuk bekerja di Brunei Darussalam ataupun Singapura.

Akan tetapi kesulitan bahasa membuat istrinya memutuskan untuk menambatkan pilihan ke Malaysia.

“Sempat minta izin dan saya izinkan. Tetapi, saya kasih rekomendasi untuk ke Singapura atau Brunei Darussalam,” ungkapnya.

"Karena merasa kesulitan belajar bahasa Inggris dan proses berangkatnya lama, akhirnya memilih berangkat ke Malaysia," imbuhnya.

Sebelumnya, guna memuluskan niatannya berangkat ke luar negeri, IW kemudian mencari informasi sendiri untuk bisa bekerja di luar negeri. Lanjut, dirinya pun mengikut sekolah bahasa di Kota Malang, Jawa Timur.

Karena ingin cepat, akhirnya IW memilih bekerja di Malaysia karena membutuhkan waktu singkat. Proses keberangkatan dari Indonesia ke Malaysia dilakukan pada sekitar Maret 2022.

“Naik pesawat, transit di Batam, kemudian terbang lagi ke Kuala Lumpur,” katanya.

Baca Juga: Organisasi Aremania Utas Ganti Kerugian Wisatawan Asal Surabaya

Setelah tiba di Malaysia, IW bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) dengan gaji 1.300 ringgit per bulan.

“Gaji itu awalnya rutin, tapi sempat terhenti selama kurang lebih tiga hingga empat bulan. Tapi kemudian gaji yang belum dibayarkan itu sudah dilunasi oleh majikannya beberapa hari menjelang Lebaran kemarin,” terangnya.

Selama bekerja di Malaysia, Sugimin mengaku jarang berkontak dengan istrinya. Sehingga, diapun tidak tahu menahu bagaimana kondisinya di sana.

"Istri juga tidak mengabari kalau mengalami tindakan kekerasan oleh majikannya selama
bekerja,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, pada Senin (24/4) lalu, Sugimin mendapatkan kabar bahwa istrinya terbaring lemas di salah satu rumah sakit di Kuala Lumpur, Malaysia. Usai mendapat kabar tersebut, Sugimin segera menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.

Baca Juga: Kasus Pengeroyokan Wisatawan Asal Surabaya Oleh Oknum Aremania Berakhir Damai

Sebelumnya, IW (39), tenaga kerja wanita asal Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, menjadi korban penyiksaan majikannya di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia disiksa dengan cara tubuhnya disetrika dan disiram air panas.

Penyiksaan itu membuat punggung IW menderita luka bakar dan kini terbaring lemas di rumah sakit di Malaysia.
Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Banyuwangi dan Serikat Buruh Migran Indonesia Cabang Banyuwangi menyebut jika IW berangkat ke Malaysia tanpa melalui jalur formal.

“Keberangkatannya tidak diketahui oleh Kepala Desa (Kades) Sraten Rahman Mulyadi maupun Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Perindustrian (Disnakertransperin) Banyuwangi,” kata Rendra Inran Kurnianto, Analis Tenaga Kerja BP2MI Banyuwangi.

Meskipun demikian, Rendra akan melaporkan temuan ini ke BP2MI Jawa Timur untuk diproses.

"Kami akan mengawal proses hukum yang ditempuh pihak keluarga. Harapannya kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.

Editor : Aris Setyoadji
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.