Minggu, 21 Jun 2026 02:37 WIB

Bukti Toleransi Nyepi di Lamongan, 9 Ogoh-ogoh Disumbang Umat Lain

Pawai ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi di Desa Balun, Lamongan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Pawai ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi di Desa Balun, Lamongan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pawai ogoh-ogoh Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan berjalan semarak. Sempat vakum tiga tahun akibat pandemi Covid-19, warga antusias menyambut pawai dan berduyun-duyun menyaksikan upacara keagamaan umat Hindu.

Setidaknya ribuan warga memadati Desa Balun. Bahkan warga dari luar desa juga terpantau menyaksikan salah satu prosesi rangkaian Hari Raya Nyepi pemeluk Hindu.

Baca Juga: Dorong Produktivitas, Petani Lamongan Terima Bantuan Alat dan Mesin Pertanian

Patung ogoh-ogoh diarak keliling desa, selanjutnya dikumpulkan di tanah lapang yang selanjutnya dibakar menjadi satu.

Pemangku Pura Sweta Maha Suci Desa Balun, Mangku Tadi, menyebutkan pada Nyepi kali ini sangat meriah. Setidaknya ada 13 ogoh-ogoh yang diarak keliling Desa Balun.

"Kali ini antusiasme luar biasa, mungkin karena tiga tahun tidak ada pawai. Jumlah ogoh-ogoh yang diarak sekarang mencapai 13. Itu dari umat (Hindu) ada empat ogoh-ogoh, sedangkan sembilan dari umat lain, maupun kelompok pemuda," ungkap Mangku Tadi, Selasa (21/3/2023).

Baca Juga: Venue Kejurprov X Biliar Jatim di Lamongan Dipindah, Ini Alasannya

Pembakaran ogoh-ogoh melambangkan pemusnahan keburukan dalam diri manusia. (foto: Adyad Ammy Iffansyah/jatimnow.com)Pembakaran ogoh-ogoh melambangkan pemusnahan keburukan dalam diri manusia. (foto: Adyad Ammy Iffansyah/jatimnow.com)

Lebih lanjut Mangku Tadi menjelaskan, dalam ajaran Hindu pawai ogoh-ogoh dimaknai sebagai pembersihan alam. Menghilangkan segala bentuk keburukan dengan simbol membakar ogoh-ogoh.

"Ogoh-ogoh menggambarkan sifat angkara murka yang ada pada diri manusia. Kenapa kok dibakar, agar sifat angkara murka itu dimusnahkan atau dikembalikan menjadi sifat yang baik, yang bijaksana. Kemudian besoknya umat Hindu menjalankan brata penyepian," tuturnya.

Baca Juga: Skor Indikator Sosial Masyarakat Tinggi, Bukti Lamongan Hidupkan Pancasila

Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengaku bangga dengan keragaman budaya yang tetap lestari di wilayahnya. Bersamaan dengan itu pihaknya melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan telah memasukan pawai ogoh-ogoh dalam kalender even Lamongan.

"Mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya bisa dilaksanakan, dan semakin baik. Ini sekaligus menunjukan tidak hanya masyarakat Indonesia, tapi kita tunjukan kepada masyarakat dunia, bahwa ada Desa Balun yang di dalam masyarakatnya penuh toleransi dan keharmonisan," urai Pak Yes, sapaannya.

Editor : Rochman Arief
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.