Kamis, 18 Jun 2026 13:09 WIB

Kisah Sopir Angkot di Jombang Kejar Setoran, Sering Utang saat Sepi Penumpang

Slamet (70) sopir angkutan umum yang ada di perempatan Jomplangan stasiun. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Slamet (70) sopir angkutan umum yang ada di perempatan Jomplangan stasiun. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Di tengah perkembangan transportasi umum yang kian modern, angkutan kota (angkot) saat ini kurang diminati oleh masyarakat.

Apalagi saat pandemi Covid-19 kemarin, sempat membuat usaha jasa transportasi ini mati suri. Hal ini membuat para sopir angkot harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di bisnis transportasi itu. Mengingat dampak Covid-19 masih mempengaruhi pendapatannya hingga saat ini.

Baca Juga: Bluebird Perkuat Konektivitas Surabaya Lewat Layanan Multimoda

Solikin (56), warga Desa Mojowarno, Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang mengaku sejak covid-19 kemarin, penumpang angkot jurusan Jombang, Pulorejo, Kandangan sangatlah sepi. Kondisi ini mempengaruhi pendapatannya sebagai sopir yang harus setor pada pemilik angkot.

"Iya sepi mas penumpangnya. Sejak Corona itu sepi, sampai sekarang mas. Sehari bisa dapat kadang ya gak dapat sama sekali, buat bensin aja nyari-nyari mas," ungkapnya, Selasa (24/1/2023).

Ia mengaku sejak Covid-19 kemarin, pendapatannya menurun sampai 50 persen.

"Kalau dulu sebelum Corona itu bisa dapat 150 ribu, itu sudah bisa setor 50 ribu mas, kalau sekarang kadang 50 ribu, kadang ya gak dapat mas," katanya.

Bagaimana cara menutupi setoran, kalau dalam sehari tidak dapat penumpang sama sekali? Ia mengaku kalau kondisi sepi, ia harus berusaha mencari utang untuk menutupi setoran.

"Sehari itu harus setor 50 ribu, kalau gak ada ya nyari hutangan, buat setor. Kan kalau hari ini gak dapat, mungkin besoknya dapat," jelasnya.

Solikin (56) sopir angkutan umum Jombang Pulorejo Kandangan (JPK) saat mangkal di depan kantor Dekopinda.(Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)Solikin (56) sopir angkutan umum Jombang Pulorejo Kandangan (JPK) saat mangkal di depan kantor Dekopinda.(Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

Ia mengaku terpaksa memilih menjadi sopir angkot lantaran tak ada keterampilan lagi yang bisa diandalkan untuk mengais rezeki.

"Ya sudah tua mas, bisanya nyopir ya bertahan tetap nyopir," ujar pria yang sudah menjadi sopir angkot sejak 2001 itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Slamet (70) warga Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang. Ia mengatakan sudah sejak tahun 1976 ia menjadi sopir angkot. Namun pada saat Covid-19 kemarin, pendapatannya sebagai sopir terkena dampak.

"Ya sepi sejak Corona kemarin mas. Sehari kadang dapat kadang ya gak dapat sama sekali. Kalau gak dapat uang buat setoran ya ngutang mas," tegasnya.

Ia mengaku untuk ongkos tarif angkot itu beragam. Ada tarif untuk pelajar ada tarif untuk umum. Kalau pelajar lebih murah.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Resmi Tutup Satgas RAFI 2026

"Kalau pelajar tarifnya Jombang-Ngoro 4 ribu. Kalau umum Jombang-Ngoro 15 ribu. Kalau pelajar tarifnya Jombang-Kandangan itu 10 ribu, kalau umum 20 ribu," paparnya.

Ia menjelaskan saat ini menjadi sopir angkot harus sabar. Mengingat persaingan dengan jasa transportasi umum lainnya sangat ketat.

"Kalau dulu bus belum ramai, Grab juga gak ada, terus sepur kelinci juga belum ada. Jadi ya angkot masih satu-satunya transportasi umum. Kalau sekarang nyari carter untuk anak sekolah ya sudah kalah sama sepur kelinci. Ya kudu sabar mas mau gimana lagi," pungkasnya.

 

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.