Selasa, 23 Jun 2026 07:04 WIB

Kisah Perajin Tampah Bambu di Jombang, Harus Lebih Sabar saat Hujan

Pembuatan tampah dari bambu yang ada di Dusun Tempuran, Desa Kedungjati, Kecamatan Kabuh. (Foto-foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Pembuatan tampah dari bambu yang ada di Dusun Tempuran, Desa Kedungjati, Kecamatan Kabuh. (Foto-foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Usaha pembuatan tampah berbahan bambu, masih terus eksis di Kabupaten Jombang. Salah satunya tempat usaha itu ada di Dusun Tempuran, Desa Kedungjati, Kecamatan Kabuh, Jombang.

Tampah merupakan salah satu perabotan rumah tangga. Berbentuk bulat lingkaran biasanya digunakan ibu-ibu rumah tangga. Tampah biasanya berbahan bambu. Namun di era saat ini ada juga tampah berbahan plastik.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

Kerajinan tampah berbahan bambu itu, sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan sejak zaman nenek moyang kita.

Seperti usaha pembuatan tampah milik Kaspin (41) warga Dusun Tempuran, Desa Kedungjati. Sejak puluhan tahun ia dan keluarganya menekuni usaha pembuatan tampah.

Untuk membuat tampah, Kaspin menceritakan, awalnya bambu dipotong sesuai ukuran. Selanjutnya bambu itu dibuat melingkar dan dijemur di sinar matahari sampai kering.

"Selanjutnya bambu dipotong tipis sesuai ukuran, dan dianyam. Setelah itu baru disatukan dengan bambu yang dibuat melingkar tadi," ungkapnya, Senin (23/1/2023).

Langkah selanjutnya dilakukan pengepresan dan dipotong secara rapi. Setelah itu dihaluskan dan dijemur untuk dikeringkan.

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

"Kalau cuaca baik, tampah bisa selesai sampai 3 hari dan bisa selesai satu kodi dalam sekali produksi. Kalau cuaca hujan bisa mundur, karena mengandalkan sinar matahari penjemuranya," ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk satu bambu sepanjang 5 meter, bisa dibuat sekitar 10 biji tampah. Dan setiap satu tampah dihargai Rp10 ribu. Ia mengaku jika hasil pembuatan tampah ini tidak dijual warga secara keliling. Namun ada tengkulak yang setiap hari datang membeli.

Baca Juga: Jombang Terancam Krisis Mikroplastik, Limbah Domestik Jadi Biang Kerok

"Untuk omzet penjualan tampah, perbulannya sekitar 2 juta rupiah dan itupun masih kotor keuntunganya," terangnya.

Ia berharap usaha yang diwariskan keluarga secara turun temurun ini masih bisa terus berjalan. Meski zaman sekarang semakin maju dan modern.

"Semoga kedepannya usaha kerajinan tampah semakin di minati dan selalu diberikan kelancaran kerajinan tampah ini," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.