Rabu, 17 Jun 2026 11:02 WIB

Deklarasi Pesantren Ramah Anak, Sistem Perlindungan bagi Para Santri

Acara Aspirasi Suara Perubahan Santri dan Deklarasi Pesantren Aman di Pondok Pesantern Al Hayatul Islamiyah. (Foto: Dollah for jatimnow.com)
Acara Aspirasi Suara Perubahan Santri dan Deklarasi Pesantren Aman di Pondok Pesantern Al Hayatul Islamiyah. (Foto: Dollah for jatimnow.com)

jatimnow.com - Lingkungan pondok pesantren menjadi salah satu tempat bagi anak untuk bertumbuh. Perlu ada sistem terpadu dan komitmen bersama untuk memastikan para santri aman dari aksi kekerasan pada anak.

Upaya kolaborasi pun dilakukan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten dan Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) Jawa Timur bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur didukung oleh Unicef Indonesia.

Baca Juga: Jargas PGN Pasok Energi untuk 15 Ribu Santri Pesantren Dalwa

Turut serta juga Kanwil Kemenag Jatim dan Jateng melalui Program Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Berbasis Gender (GBV). Ini sekaligus upaya pencegahan perkawinan anak melalui penguatan norma sosial perlindungan anak berbasis masyarakat.

“Melalui Aspirasi Suara Perubahan Santri dan Deklarasi Pesantren Aman Tanpa Kekerasan, kami mencoba untuk melakukan upaya pencegahan kekerasan pada anak,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Dr Waryono Abdul Ghafur di sela-sela acara Aspirasi Suara Perubahan Santri dan Deklarasi Pesantren Aman di Pondok Pesantern Al Hayatul Islamiyah, Kamis (8/12/2022).

Ia melanjutkan, perempuan dan anak memiliki peranan penting untuk dilindungi. Mereka termasuk kelompok rentan yang harus terus disiapkan sistem untuk melindungi mereka.

“Kita mau menyuarakan suara profetik dari anak. Sehingga kita bisa terus menjaga mereka dari berbagai ancaman,” ungkapnya.

Semua pihak, katanya, harus berjuang termasuk pesantren. Pasalnya, sampai saat ini masih ada kekerasan pada anak dan perempuan. Selama ini semua pihak banyak bergerak di sektor hilir. Ketika kasus atau kejadian sudah terjadi baru berjalan dan turun ke lapangan.

"Kita perlu bekerja keras untuk mencari solusi, salah satunya adalah sisi kebijakan. Kebijakan yang perlu dibuat buat anak biar terlindungi. Jadi upaya pencegahan di sektor hulu sangat penting,” imbuhnya.

Selain itu, salah satu faktor lagi adalah masalah budaya. Masih ada tradisi memperlakukan anak dengan semena-mena. Termasuk ada juga tradisi perkawinan anak yang masih juga terjadi di beberapa daerah.

Baca Juga: Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang, Nilai Investasi Capai Rp800 Miliar

"Tempo dulu suara anak tidak didengarkan, sekarang suara itu harus didengarkan. Pesantren dan semua lingkungan juga harus bisa mendengar suara anak itu,” tegasnya.

Pengurus PP Al Hayatul Islamiyah Malang Nyai Hj Anik Zulaichah menuturkan, perlindungan anak di pesantren sangat penting bagi kemajuan dunia pendidikan. Pihaknya memastikan suasana yang nyaman bagi para santri di pesantren.

“Kita siap untuk menerapkan itu. Dan berkomitmen bersama dalam pesantren ramah anak,” jelasnya.

Baca Juga: Pendaki Ilegal Gunung Semeru Berhasil Dievakuasi, Pengelola Jatuhi Sanksi

Sebelumnya, para santri juga memberikan suaranya melalui Suara Perubahan Santri yang sudah dihimpun. Para anak ingin di pesantren menjamin, menghargai dan memenuhi hak-hak anak. Serta mewujudkan hak anak bebas dari aksi kekerasan, diskriminasi dan perlakuan salah lainnya di lingkungan pondok pesantren.

Serta saling menghormati dan menghargai perbedaan dalam proses pembelajaran dan pengasuhan di lingkungan pondok pesantren. Termasuk juga menerapkan disiplin positif dalam pembelajaran di pondok pesantren.

“Serta mencegah perkawinan anak dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak di pondok pesantren,” kata Adra Fawaid, santri dari Pesantren Alhamdulillah Rembang.

Aspirasi Suara Santri Perubahan disusun oleh 10 Pondok Pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang terdiri dari Ponpes Al Asy’ariyah Wonosobo, Al Asror Semarang, Khozinatul Ulum Blora, Hidayatul Mubtadiin Cilacap, Al Anwar Rembang, Alhamdulillah Rembang, Mambaul Ulum Bondowoso, Wahyu Hidayatul Lumajang, Hidayatullah Trenggalek dan Al Hayatul Islamiyah.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.