Rabu, 17 Jun 2026 18:15 WIB

Budidaya Ulat Hongkong, Pria di Jombang Kebanjiran Cuan

Ulat Hongkong untuk pakan burung kicau yang ada di Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam. (Foto-foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Ulat Hongkong untuk pakan burung kicau yang ada di Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam. (Foto-foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Iswoyo (48) warga Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, kebanjiran cuan, usai membudidayakan ulat Hongkong.

Dari usaha yang ia geluti selama 11 tahun itu, Iswoyo mampu mendapatkan uang omzet sebesar R12 juta setiap bulan.

Baca Juga: Lita Machfud Arifin Sulap Kandang Maggot Kampung Oase Surabaya Jadi Lebih Modern

Ditemui di rumahnya, ia mengaku mengawali usaha ini, lantaran disuruh oleh sang kakak yang ada di Kabupaten Blitar. Saat itu sang kakak sudah berbisnis ulat Hongkong, yang biasanya dibuat pakan burung kicauan.

"Awalnya disuruh kakak saya di Blitar. Terus belajar di sana selama sebulan, dan baru akhirnya membuka usaha sendiri di Jombang sekitar tahun 2012 bulan 2," ungkapnya, Senin (5/12/2022).

Ia menjelaskan, yang paling utama dari budidaya ulat Hongkong ini adalah proses penangkaran indukan ulat.

"Awalnya itu pembuatan indukan istilahnya kepik atau kumbang," paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, ulat Hongkong ini dibesarkan sampai berubah menjadi kepompong. Selanjutnya kepompong ini disortir.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

"Setelah dipilah kemudian jadi kumbang, di kasih media. Terus bertelur dan ditetaskan," katanya.

Usai ulat Hongkong menetas, ulat tersebut harus diberi makan ampas tahu. Sampai umur 55 hari baru ulat Hongkong ini bisa dijual.

Setelah menjalani bisnis ulat Hongkong selama 11 tahun, kini Iswoyo memiliki 7.000 kandang. Setiap 10 hari sekali ia bisa memanen ulat Hongkong miliknya.

Lantaran memiliki 7.000 kandang ulat Hongkong, ia mengaku sempat kuwalahan memberikan pakan. Hal ini dikarenakan harga polar mengalami kenaikan.

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

"Mengalami kenaikan ya. Dulu awal saya ternak, harga polar ini 150 ribu rupiah per sak. Sekarang naik 225 per sak," ujarnya.

Kenaikan harga polar ini, lanjut Iswoyo mempengaruhi pendapatannya. Jika keadaan normal ia bisa meraup cuan Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan.

"Kalau sekarang bisa dapat 12 juta rupiah per bulannya," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.