Rabu, 17 Jun 2026 04:10 WIB

Keberadaan Ponpes Gusur Prostitusi di Sekitar Pabrik Gula Sidoarjo

PG Tulangan yang dibangun era kolonial dan menyimpan jejak sejarah kelam di ranah prostitusi. (foto: Sidoarjo Masa Kuno for jatimnow.com)
PG Tulangan yang dibangun era kolonial dan menyimpan jejak sejarah kelam di ranah prostitusi. (foto: Sidoarjo Masa Kuno for jatimnow.com)

jatimnow.com– Berdirinya pabrik gula (PG) di Sidoarjo menjadi simbol industrialisasi di era kolonial. Keberadaan pabrik gula menjadi pengendali perekonomian regional. Tidak hanya dalam negeri, tapi juga untuk memenuhi pasar luar negeri.

Pabrik gula, kala itu, dijadikan mesin uang untuk menyuplai kebutuhan logistik. Kebetulan di era kolonial Perang Dunia pecah hampir di seluruh Eropa dan beberapa negara Asia.

Baca Juga: Jargas PGN Pasok Energi untuk 15 Ribu Santri Pesantren Dalwa

Menurut pemerhati sejarah di Sidoarjo, Sudi Harjanto menyebutkan perkembangan industri gula membuat Belanda secara berkala membangun sejumlah pabrik gula di penjuru kota delta.

Usai membangun PG Candi pada 1832, beberapa pabrik lain berdiri. Total ada 15 PG yang dibangun Belanda di masa kolonial.

“Tersebar di setiap kecamatan, yang meliputi Tulangan, Krembung, Prambon, Porong, Candi, Sidoarjo Kota, Buduran, Krian, Taman, Waru, Gedangan, Tanggulangin, Wonoayu, Krian, dan Balongbendo,” ujar pria yang akrab disapa Sudi tersebut.

Belanda sukses menggandeng para penguasa lokal setingkat kecamatan hingga kabupaten untuk memperkokoh PG. Belanda memanfaatkan kereta api dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Perak guna mengirim gula ke sejumlah daerah maupun luar negeri.

Keberadaan pabrik gula di Sidoarjo membawa efek bagi kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah menjamurnya prostitusi untuk kelas bawah hingga menengah.

Sudi menggambarkan Ada Gula Ada, untuk menggambarkan prostitusi sebagai dampak dari industrialisasi.

Baca Juga: Gus Salam Sowan ke Kiai Imjaz Jelang Muktamar NU ke-35

“Prostitusi kelas menengah saat itu bernama sociates. Rata-rata para pekerja dari Belanda yang bertamu. Nah (prostitusi) kelas bawah, berdiri di sekitar kelas menengah. Adapun PSK mayoritas warga lokal,” paparnya.

Pria yang juga Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno itu menjelaskan, keberadaan 15 PG dibarengi dengan munculnya lokalisasi dengan jumlah sama.

Pria yang juga lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah menambahkan bila pekerja asal Belanda lebih tertarik PSK lokal. Alasannya mereka dilarang membawa anak-istri selama di Indonesia.

Seiring berkembangnya waktu, titik-titik prostitusi di sekitar PG mulai hilang. Salah satu sebab adalah mulai bangkrutnya pabrik buatan Belanda.

Baca Juga: Pelajar Asal Bogor Tewas Terlindas Truk di Gedangan Sidoarjo

Termasuk pula keberadaan pondok pesantren (ponpes) yang mulai berdiri di Sidoarjo. Ditambahkan Sudi bila peran ponpes sanggup menekan prostitusi.

“Ditambah dengan perlawanan para pekerja, santri dan masyarakat kelas bawah pada Belanda, juga menjadi satu faktor meredupnya dominasi Belanda kala itu,” terangnya.

Menurut catatan Sudi, satu-satunya pabrik gula yang masih aktif adalah PG Candi. Namun demikian, prostitusi yang juga masih berjalan hanya terdapat di tiga titik.

“Yakni di Tangkis (Porong), Krengseng (Krian), dan Randu Pitu (Candi). Ketiganya sudah ada sejak zaman Belanda,” pungkasnya.

Editor : Rochman Arief
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.