Rabu, 17 Jun 2026 02:57 WIB

Petani di Trenggalek Mencoba Bangkit Lewat Budidaya Jahe Merah

Petani menunjukkan tanaman jahe merah.(Foto: Bramanta Pamungkas)
Petani menunjukkan tanaman jahe merah.(Foto: Bramanta Pamungkas)

Trenggalek - Petani di tiga desa di Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggelek, membudidayakan jahe merah. Mereka bergabung dalam Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesmas) Sari Bumi dalam melakukan budidaya. Hasilnya, kesejahteraan petani yang mengikuti program tersebut mulai meningkat. Hingga saat ini terdapat 50 petani yang terus melakukan budidaya jahe merah.

Ketua Bumdesma Sari Bumi Hari Subiyanto mengatakan, petani yang aktif melakukan budidaya berasal dari Desa Pule, Pakel dan Jombok. Sebelum menanam jahe merah, daerah tersebut dulu terkenal dengan penghasil cengkeh. Namun pada 1990-an harganya terus merosot sehingga berimbas terhadap ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Bank Jatim Salurkan CSR ke Trenggalek Berupa Floor Projector Highlight

"Bahkan Kecamatan Pule penduduk miskinnya terbanyak nomor 2 di Trenggalek," ujarnya, Jumat (12/08/2022).

Masyarakat lalu berusaha bangkit dengan mencoba menanam empon-empon. Beberapa jenis tanaman empon-empon seperti kunyit, jahe, lengkuas dan kencur banyak ditanam di daerah tersebut. Namun saat musim panen, para petani sering mengalami kesulitan penjualan sehingga harganya anjlok.

"Seperti sungai tanpa hulu karena banyaknya barang tapi sulit menjualnya, dalam setahun daerah ini mampu menghasilkan 4.500 ton empon-empon," tuturnya.

Baca Juga: JLS di Tulungagung Telah Rampung Pembangunannya, Tiga Kabupaten Sudah Terhubung

Kondisi berubah saat para petani menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan farmasi, PT Kalbe Farma. Mereka ditawari untuk memenuhi kebutuhan jahe merah untuk perusahaan. Kerja sama dinilai sangat menguntungkan bagi petani. Hal itu dikarenakan para petani mendapat kepastian harga.

Saat ini harga jahe merah di pasaran berkisar Rp3 ribu per kg. Namun melalui Bumdesmas Sari Bumi, harga jahe merah dari petani dibeli hingga Rp7 ribu per kilogram.

"Saat ini sudah ada 50 petani yang membudidayakan jahe merah ini. Ke depan akan kami coba kembangkan lagi dengan menanam sereh wangi," ungkapnya.

Baca Juga: Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Sementara itu, Head of Commmersialization BINA PT Bintang Toedjoe Lidya Warjaya menerangkan, kebutuhan jahe merah untuk produksi farmasi mencapai 10 ton setiap bulan. Jahe merah memiliki sejumlah keunggulan dari jenis lainnya. Di antaranya memiliki tingkat minyak atsiri yang lebih tinggi. Selain itu juga mengandung betakarotin yang berfungsi sebagai antioksidan.

"Tak hanya membeli jahe merah petani, kami juga memberikan edukasi kepada mereka terkait budidaya," pungkasnya.

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.