Objek Bangunan Candi di Trenggalek Diperkirakan Berasal dari Era Mataram Kuno
- Penulis : Bramanta Pamungkas
- | Jumat, 29 Jul 2022 17:50 WIB
Trenggalek - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, melakukan survei penyelamatan sebuah struktur batu bata kuno, di Desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.
Survei dilakukan untuk mengetahui adanya potensi objek diduga cagar budaya pada struktur ini. Hasilnya, kuat dugaan jika temuan itu merupakan bagian dari candi yang diperkirakan berasal dari era Kerajaan Mataram Kuno.
Baca Juga: Bank Jatim Salurkan CSR ke Trenggalek Berupa Floor Projector Highlight
Ketua tim survei, Muhamad Ichwan mengatakan, mereka menggunakan metode ekskavasi dengan membuka sejumlah kotak dan melakukan penggalian. Targetnya, untuk mengetahui denah dari struktur yang diketahui merupakan bagian dari candi.
"Denahnya sudah terlihat, berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 6x6 meter," ujarnya, Jumat (29/07/2022).
Ada temuan menarik dari survei, yakni ukuran batu bata yang pajangnya mencapai 35 sentimeter, lebar 25 sentimeter dengan ketebalan 9 sentimeter.
Penggalian struktur batu bata kuno di Desa Gondang, Kecamatan Tugu.
Baca Juga: JLS di Tulungagung Telah Rampung Pembangunannya, Tiga Kabupaten Sudah Terhubung
Batu bata jenis ini berbeda dengan yang biasa ditemukan pada bangunan candi era Kerajaan Majapahit. Di mana pada masa Kerajaan Majapahit, biasanya berukuran panjang 32 sentimeter, lebar 21 sentimeter dan tebal 7 sentimeter.
"Dugaan kami candi berasal dari era Mpu Sindok zaman Mataram Kuno, tapi ini masih dugaan perlu dilakukan kajian lebih lanjut," tambah Ichwan.
Terkait itu, tim merekomendasikan bahwa struktur ini layak untuk dilakukan ekskavasi secara keseluruhan.
Baca Juga: Penutupan Jalan Utama Tulungagung - Trenggalek Tertunda, Ini Alasannya
Proses bisa dilakukan oleh Pemkab Trenggalek, sementara BPCB akan melakukan pendampingan selama proses tersebut.
"Ini sudah sangat memenuhi unsur objek cagar budaya, perlu dilakukan penelitian dan akan bermanfaat bagi edukasi sejarah," pungkasnya.
Editor : Arina Pramudita