Rabu, 17 Jun 2026 20:53 WIB

Beragam Pantangan saat Bulan Suro Bagi Masyarakat Jawa (3-habis)

Bintang Timur Diponegoro (tengah) dan tim Dua Alam saat melakukan penelusuran kerajaan siluman ular di Sungai Kalimas, Surabaya. (Foto: Fajar Mujianto/jatimnow.com)
Bintang Timur Diponegoro (tengah) dan tim Dua Alam saat melakukan penelusuran kerajaan siluman ular di Sungai Kalimas, Surabaya. (Foto: Fajar Mujianto/jatimnow.com)

Surabaya - Dipercayai sebagai bulan keramat, Suro dinilai memiliki berbagai pantangan bagi masyarakat suku Jawa. Apa benar demikian?

Salah satu penganut ilmu supranatural asal Surabaya, Bintang Timur Diponegoro mengungkap beragam pantangan itu sebagai perbedaan adat yang dipercayai oleh orang Jawa.

Baca Juga: Kota Kediri Deklarasikan Aman Suro 2026, 900 Personel Disiagakan

Keturuan ke-6 Pangeran Diponegoro itu membeberkan, dari beragam petualangan spiritualnya, mayoritas leluhur Jawa memang menyarankan agar momen Suro dipakai untuk melakukan pendekatan kepada Tuhan dan alam.

"Antara kepercayaan dan adat, sama keyakinan ini selalu bertentangan. Jadi memang nggak bisa dipatenkan. Kalau menurut saya nduwe gawe itu boleh, asal jangan pernikahan, kalau khitanan itu malah bagus," ujar Bintang kepada jatimnow.com, Selasa (26/7/2022).

Berkaca pada sejarahnya, leluhur memang tidak menyarankan masyarakat Jawa menggelar aktivitas yang bersifat berat. Seperti menggelar pernikahan, merenovasi rumah, atau membangun bisnis.

Aktivitas-aktivitas berat tersebut dikhawatirkan membuat masyarakat lupa dengan momen Suro sebagai bulan tirakatan atau momen terbaik untuk menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca Juga: Jaga Kondusivitas, Forkopimda dan Perguruan Silat Jember Gelar Apel Kebangsaan

"Jadi Suro itu adalah kegiatan yang berhubungan dengan alam, karena kalau kita berkegiatan membangun rumah, atau merubah tatanan rumah itu kan pasti ada slametan dan lain-lain, jadi sibuk, lupa waktu," jelas Bintang.

Bintang memandang Bulan Suro sebagai waktu yang tepat di mana alam membuka seluruh pintu ghaibnya. Dengan demikian, segala keinginan atau doa yang dipanjatkan mustajabah atau dikabulkan.

Hingga saat ini, masih kata Bintang, malam 1 Suro dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Jawa sebagai yang dikeramatkan. Sehingga lokasi-lokasi keramat sering kali menjadi tujuan para penganut ilmu-ilmu supranatural.

Baca Juga: Awali Buka Giling, PG Modjopanggung Tulungagung Gelar Manten Tebu

Di Jawa Timur, Alas Purwo yang berada di Banyuwangi menjadi tujuan utama untuk melangsungkan meditasi, bertapa, berdoa, untuk melatih kebatinan dengan Tuhan dan alam.

"Itu rame sekali Alas Purwo kalau momen Suro, kayak pasar sudah, dari berbagai daerah," jelas Bintang.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.