Kamis, 18 Jun 2026 00:47 WIB

Punya 48 Cucu dan Cicit, Nenek di Ponorogo Jalani Tradisi Angon Putu

48 cucu dan cicit Hj Lebrok menjalani tradisi angon putu. (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)
48 cucu dan cicit Hj Lebrok menjalani tradisi angon putu. (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)

Ponorogo - Suku Jawa kental dengan banyaknya tradisi. Salah satunya adalah 'angon putu'. Tradisi ini terlihat di Pasar Legi Ponorogo, Sabtu (9/7/2022).

Suasana pusat ekonomi Bumi Reog itu tiba-tiba riuh karena kedatangan Hj Lebrok warga Kelurahan Paju, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo.

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

Nenek berusia 120 tahun menggunakan kursi roda dan membawa pecut. Sekali-kali juga berdiri. Terlihat nenek yang menggunakan baju coklat itu sekali-kali memecut para cucu dan cicitnya berjumlah 48 orang.

Bukan karena marah, Hj Lebrok memecut merupakan bagian dari tradisi angon cucu dan cicit. Untuk lecutan berguna untuk mengarahkan cucu dan cicit. Lecutan itu diayunkan tanpa menyakiti.

Cucu dan cicit diberikan uang Hj Lebrok. Mereka kemudian menuju lantai 4 Pasar Legi. Uang yang diberikan itu bebas digunakan untuk beli apapun.

"Kami sebagai orang Jawa, ingin melestarikan leluhur dulu. Bilamana orang Jawa sudah memiliki cucu 25 orang, wajib diajak jajan di pasar, dengan sebutan angon putu," kata Dirman, anak ke-7 dari Nenek Lebrok.

Dirman dan keluarganya lainnya sangat bersyukur. Pasalnya ibunya sudah usia senja tapi masih sehat. Bahkan Hj Lebrok baru perjalanan pulang dari Jakarta.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Dirman berusia hampir 60 tahun. Anak pertama Hj Lebrok berusia 76 tahun. Cucu pertama usia 58 tahun dan paling kecil SMP Kelas 1. Sedangkan cicitnya ada yang masih bayi.

"Pada Lebaran haji ini, ibu kepingin angon putu. Makanya beliau memberitahukan kepada anak dan cucu-cucunya untuk pulang ke Ponorogo," katanya.

Kegiatan angon putu ini hanya digelar satu kali. Selain untuk melestarikan adat budaya Jawa, kegiatan angon putu ini juga sebagai wujud rasa syukur. Di umurnya yang sudah tidak muda lagi, namun masih diberikan kesehatan dan badan segar.

Baca Juga: Awali Buka Giling, PG Modjopanggung Tulungagung Gelar Manten Tebu

Sementara, raut wajah Hj Lebrok terlihat bahagia. Dia tidak menyangka bisa menjalankan tradisi angon putu ini.

"Tidak ada jamu apa-apa. Semua makanan dimakan. Tetap jualan di usia senja. Jadi tetap beraktivitas, " pungkasnya.

Dulu tradisi angon putu sering diadakan oleh masyarakat Jawa. Namun, saat ini sudah jarang sekali dijumpai seiring dengan jumlah anak dalam satu keluarga sekarang tidak banyak.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.