Sabtu, 20 Jun 2026 06:23 WIB

Tekan Harga Cabai, Pedagang di Lamongan Gunakan Siasat Ini

Saini salah satu pedagang di Pasar Tradisional Sidoharjo Lamongan. (Foto: Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Saini salah satu pedagang di Pasar Tradisional Sidoharjo Lamongan. (Foto: Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

Lamongan - Beragam cara dilakukan agar cabai rawit tetap laku di saat harganya menembus Rp100 ribu per kilogram. Seperti para pedang di Lamongan yang mulai menyiasatinya dengan cara oplosan untuk menekan harga cabai.

Para pedagang mencampur cabai rawit merah dengan cabai hijau. Bukan rahasia lagi, tindakan itu lumrah dilakukan para pedagang ketika musim cabai mahal tiba.

Baca Juga: Dorong Produktivitas, Petani Lamongan Terima Bantuan Alat dan Mesin Pertanian

"Kalau dioplos harga bisa ditekan, menjadi Rp75 - Rp80 ribu/Kg, dengan begitu pembeli tidak terlalu terbeban dengan harga selangit itu," ungkap Saini, salah satu pedagang di Pasar Sidoharjo Lamongan kepada jatimnow.com, Selasa (7/6/2022).

Kenaikan harga cabai rawit ini juga mempengaruhi daya beli masayrakat terhadap cabai. Akibatnya para pedagang mengaku merugi karena umur cabai yang diketahui membusuk.

"Sejak mahal ini penjualan penurun, alhasil cabai busuk sering sekali terjadi," ujarnya.

Baca Juga: Venue Kejurprov X Biliar Jatim di Lamongan Dipindah, Ini Alasannya

Selain mengoplos, guna menghindari kerugian yang lebih besar akibat cabai yang membusuk dan akhirnya terbuang juga dilakukan pengolahan. Pedagang seperti Saini memilih mengolah ulang cabai yang tidak laku dan nyaris membusuk.

"Kan ada tanda-tandanya kalau mau busuk langsung direbus, dijemur, setelah kering dihaluskan bisa jadi cabai kering, tapi itupun harga jual menurun kadang satu kresek Rp10 ribu. Tapi lebih baik seperti itu dari pada terbuang," tungkas Saini.

Baca Juga: Diminati Karena Kualitas, Selada Hidroponik Lapas Lamongan Suplai Dapur MBG

Sementara, menurut Plt Kadisperindag, M Zamroni menyampikan penyebab utama harga mahal ini terjadi karena stok yang menurun akibat perubahan cuaca, hama.

"Alhasil produktivitas petani cabai menurun, dan terjadilah kondisi ini. Mahalnya harga cabai juga terjadi pada 4 pasar induk di Lamongan yakni Sidoharjo, Mantup, Babat, dan Blimbing," ungkap Zamroni.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.