Jumat, 19 Jun 2026 09:45 WIB

Peternak Ayam di Kota Batu Berharap Pemerintah Melek Peredaran Telur Infertil

Peternak ayam petelur di Kota Batu (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)
Peternak ayam petelur di Kota Batu (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)

Kota Batu - Peredaran telur infertil membuat peternak ayam petelur di Kota Batu was-was. Sebab selain berbahaya bagi kesehatan, telur itu bisa menganggu harga pasar.

Untuk itu, para peternak berharap adanya ketegasan untuk mencegah peredarannya di Kota Batu. Seperti yang disampaikan Penasihat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto.

Baca Juga: Tingkatkan Produktivitas Ayam Broiler di Pacitan, Alumni UGM Beri Pendampingan

Dia menilai, peredaran telur infertil melanggar Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

"Dalam pasal 13, pelaku usaha integrasi, pembibit GPS, pembibit PS, pelaku usaha mandiri dan koperasi dilarang memperjualbelikan telur tertunas dan infertil sebagai telur konsumsi," ungkap Ludi, Selasa (31/5/2022).

Menurut Ludi, rata-rata telur tersebut berasal dari perusahaan besar dan dalam pasal itu menegaskan integrator dilarang menjual telur infertil.

"Jadi perusahaan itukan punya pembibitan ayam yang kemudian bertelur. Nah, telurnya ini ditetaskan lalu dijual ke peternak. Pada kondisi tertentu, dia tidak jual anak ayam, tapi telur. Seharusnya itu dilarang," imbuhnya.

Baca Juga: Bulog Tulungagung Mulai Salurkan Jagung SPHP Untuk Peternak Ayam

Untuk ciri telur infertil, biasanya warna agak keputihan, kulit telur tipis, dalam telur encer dan kadang berbau. Dia berharap ada ketegasan dan kepedulian dari pemerintah karena di daerah lain aturan itu sudah diberlakukan.

Namun di Kota Batu sendiri, dirasa tidak ada upaya tersebut. Bila dibiarkan kondisi ini bisa menganggu keberadaan para peternak ayam petelur.

"Sebab paling utama tidak stabilnya harga, karena pemerintah tidak tegas mengatur tata niaga. Kalau pemerintah tegas, ketika ada fluktuasi tidak akan tajam sekali," jelas dia.

Baca Juga: Audit Sampah Ungkap Sachet Kuasai Limbah Rumah Tangga Batu

Untuk diketahui, saat ini harga telur dari peternak Rp 24 ribu, distributor ke toko Rp 25 ribu. Penjual di toko ke konsumen Rp 26 ribu. Jadi untung yang diterima dari hulu sama, yakni Rp 1000.

"Lalu untuk biaya produksi dalam sehari setiap ekor membutuhkan rata-rata 125 gram pakan campur konsentrat, jagung, dan bekatul," tutupnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.