Kamis, 18 Jun 2026 02:44 WIB

Khawatir Ditinggal Pelanggan, Perajin Tempe di Tulungagung Tetap Produksi

Produsen tempe di Tulungagung saat produksi tempe di rumah. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Produsen tempe di Tulungagung saat produksi tempe di rumah. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

Tulungagung - Perajin tempe dan tahu di Desa Rejosari, kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung mengeluhkan mahalnya harga kedelai impor. Meski demikian, mereka tetap memilih membuat tempe meski keuntungan turun hingga 50 persen.

Para produsen berharap pasokan kedelai tetap lancar meski harganya naik. Mereka baru menghentikan produksinya jika ketersediaan kedelai mulai mengalami kelangkaan.

Baca Juga: Dear Prabowo, Produsen Tahu di Tulungagung Resah Karena Harga Kedelai Naik

Baca juga:

Salah seorang perajin tempe, Jumadi menerangkan, kenaikan harga kedelai ini sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Kenaikan harga terjadi setiap hari rata-rata Rp100 per kilogram. Saat ini harga kedelai hampir mencapai Rp12 ribu per kilogram.

Dalam sehari, Jumadi bisa mengolah 60 kilogram kedelai untuk dijadikan tempe.

Baca Juga: Antisipasi Potensi Kerusuhan, Pemkab Tulungagung Gelar Rapat Koordinasi

"Bagi saya harga kedelai berapa pun Insya Allah masih bisa beli, yang penting pasokannya lancar," ujarnya, Senin (21/02/2022).

Meski harga kedelai mahal, Jumadi memilih tetap produksi karena tidak ingin pelanggannya kabur. Pria 60 tahun tetap membuat tempe dengan ukuran dan harga sama seperti sebelum harga kedelai naik. Akibatnya, laba yang diperoleh menurun hingga 50 persen.

"Kalau harga tempe naik atau ukuran berubah takut pelanggan ngomel dan pindah ke tempe yang lain," tuturnya.

Baca Juga: Ribuan Siswa Tulungagung Mulai Terima Makan Bergizi Gratis

Mereka berharap pemerintah mau membantu dengan menurunkan harga kedelai impor. Sedangkan untuk menambah penghasilannya, produsen menjual limbah pembuatan tempe untuk dijadikan pakan ternak.

"Jadi untungnya dari penjualan sisa pembuatan tempe, kulit kedelai yang dijual untuk bisa menambah untung kami," tuturnya.

Editor : Arina Pramudita
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.