Rabu, 17 Jun 2026 06:03 WIB

Guru Honorer di Ngawi: Tinggal dengan Kambing, Entaskan Buta Huruf

Sri Hartuti, guru honorer yang tinggal dengan kambing (Mita-jatimnow.com)
Sri Hartuti, guru honorer yang tinggal dengan kambing (Mita-jatimnow.com)

Ngawi - Sri Hartuti, seorang guru honorer yang mengajar di SDN 2 Panen, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi kesehariannya tinggal bersama dengan kambing piaraannya di rumahnya berdinding anyaman bambu.

Sri bersama suami dan ketiga anaknya tinggal di rumah yang berdiri di atas tanah milik Perhutani.

Baca Juga: Ketidakadilan Kebijakan Pendidikan di Kabupaten Sidoarjo

Ia menyebutkan, dengan gaji Rp 350 ribu dirinya tidak dapat membangun rumah yang lebih layak untuk tinggal bersama keluarganya.

"Ya begini, rumah yang kami tinggali. Gentingnya banyak yang bocor. Di kamar tidur, kami pasang seng biar sedikit nyenyak," ujar Sri, Sabtu (23/10/2021).

Ia mengaku memelihara kambing untuk menyambung hidup. Namun, karena tidak ada lagi tempat maka kambing piaraannya itu dimasukkan ke dalam rumah.

"Ya gimana lagi tidak ada tempat. Anak saya sering diejek temannya karena tidur dengan kambing," ujar Sri.

Tetapi ejekan itu hanya dianggap angin lalu oleh keluarga mereka karena kambing itu digunakan untuk membantu perekonomian. Saat membutuhkan makanan, terkadang kambing itu dijual untuk membeli beras.

"Ya ndak mengapa diejek. Mereka belum tahu saja. Pas ndak punya uang, ya saya jual untuk beli beras. Nanti kalau ada uang lagi beli lagi," sebutnya.

Dia mengaku hanya bisa menghibur ketiga anaknya jika saat ini Allah sedang menguji keluarga mereka. Sri berharap kelak ketiga anaknya akan mengingat sulitnya hidup mereka di saat menjadi orang yang sukses.

Baca Juga: 1.607 Guru Honorer di Tulungagung Telah Diangkat Menjadi PPPK Paruh Waktu

“Biar mereka ingat bagimana rasanya menjadi orang tidak punya sehingga tidak sombong kalau sudah sukses,” harapnya.

Sri mengaku memilih menjadi guru honorer sejak 2007 karena saat itu di desanya banyak anak-anak yang tidak bisa membaca.

Ia menyebutkan, anak-anak tersebut telah duduk di kelas 4 namun belum bisa membaca dan menulis. Keadaan itu diperparah dengan orang tua siswa yang juga buta huruf karena tinggal di kampung terpencil di tengah hutan jati.

"Dulu sepulang sekolah, saya beri pelajaran tambahan biar anak-anak desa bisa membaca,” jelasnya.

Setelah 14 tahun mengajar, anak didiknya kini banyak yang sukses.

Baca Juga: Mas Dhito Segera Angkat 1.585 Guru Honorer di Kediri jadi PPPK Paruh Waktu

"Ada yang jadi pengusaha di Jakarta. Ada juga yang menjadi polisi," sebutnya.

Sri Hartuti berharap anak muda di desanya bisa menjadi orang yang berprestasi di tengah perkembangan jaman melalui ilmu yang mereka miliki.

"Sekolah itu penting untuk menggapai sukses," pungkasnya.

Editor : Sandhi Nurhartanto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.