Pedagang PIOS Maksimalkan Serap Pepaya Thailand dari Petani saat Panen Raya
- Penulis : Sahlul Fahmi
- | Rabu, 16 Jun 2021 16:02 WIB
jatimnow.com - Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS) menjadi solusi bagi para petani di Jawa Timur. Tidak terkecuali petani asal Lumajang yang dikenal sebagai pemasok utama pepaya di pasar yang berada di Kecamatan Benowo itu.
Hampir tiap hari truk pengangkut pepaya berkapasitas 7 ton keluar masuk ke PIOS karena para petani di Lumajang sedang panen raya.
Baca Juga: DPRD Surabaya: Wilayah Perbatasan Kita Pastikan Tidak Tertinggal
"Kalau musim panen raya memang seperti ini, setiap hari ada kiriman dalam jumlah banyak," kata salah satu pedagang pepaya di blok G PIOS, Yuli kepada jatimnow.com, Rabu (16/6/2021).
Pedagang asli Malang itu mengatakan jika musim panen raya seperti sekarang kendaraan yang masuk membawa pepaya kebanyakan adalah truk.
Pepaya yang dikirim para petani Lumajang ini merupakan jenis pepaya Thailand yang memilki karakter lonjong dengan garisnya berwarna oranye.
Di dalam kandungan pepaya terdapat vitamin A yang baik untuk kesehatan mata serta vitamin C yang bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu proses pemulihan.
Baca Juga: Pasar Induk Surabaya Sidotopo: Bersih, Aman, Nyaman dan Fasilitasnya Keren
Pepaya Thailand seperti ini menurut Yuli cukup digemari masyarakat. Pedagang di PIOS berusaha menyerap hasil panen raya pepaya Thailand dari petani asal Lumajang.
"Pepaya jenis ini laris manis. Untuk kiriman satu truk paling 2 hari sudah habis," bebernya.
Menurutnya, saat panen raya, harga pepaya memang tidak terlalu mahal yakni dikisaran Rp 3,7 ribu per kilogram. Harga tersebut akan mulai merangkak seiring berkurangnya pasokan dari petani.
Baca Juga: Harga Cabai di Pasar Induk Porong Sidoarjo Berangsur Turun, Hanya Rp50 Ribu/Kg
"Saat stok mulai menipis wajar jika harga jadi naik. Harga per kilogram sampai Rp 5 ribu lebih jika tidak musim panen raya," tandasnya.
Berita ini kerjasama antara Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS) dengan jatimnow.com
Editor : Sandhi Nurhartanto