Minggu, 14 Jun 2026 02:24 WIB

Menengok Para Manula 'Perkasa' di Kampung Eksodus Banyuwangi

  • Penulis :
  • | Jumat, 01 Jun 2018 15:16 WIB
 Tukiman (84) dan Gisah (80) membuat tampah./Foto: Irul Hamdani
Tukiman (84) dan Gisah (80) membuat tampah./Foto: Irul Hamdani

jatimnow.com - Kampung Eksodus di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, dihuni belasan kepala keluarga (KK) yang beberapa diantaranya adalah para manula.

Penghuni disini adalah para korban kerusuhan SARA yang pernah meletus disejumlah daerah.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Adalah Tukiman (84) dan Gisah (80), pasangan suami istri (Pasutri) salah satu penghuni Kampung Eksodus. Sebelumnya, pasutri asli Jember itu pernah hidup lama di Poso, Sulawesi Utara.

Saat di Poso, mereka menjadi petani dari program transmigrasi pemerintah dan sudah bisa merubah hidup menjadi lebih berada.

Di tanah perantauan, Tukiman dan Ginah bisa memiliki hektaran kebun dan sawah. Namun di tanah pengharapan itu datang malapetaka.

"Semuanya berubah saat meletus kerusuhan SARA disana. Saya dan Mbah Kakung (Tukiman) menyelamatkan diri dan meninggalkan semua harta yang ada," kenang Nenek Gisah, ditemui jatimnow.com, Jumat (1/6/2018).

Kini, diusianya yang senja, kehidupan mereka belum sama sekali berubah. Hidup tetap menumpang di barak pengungsian yang dibangun pemerintah desa setempat. Tempat tinggalnya pun ala kadarnya.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

Meski hidup dibawah garis kemiskinan, tak lantas membuat mereka mengharap belas kasihan. Mereka tetap 'perkasa' menghadapi kerasnya kehidupan.

"Kalau tidak kerja seperti ini mau apa? Ya harus tetap kerja biar bisa makan" tambahnya.

14 tahun lamanya mereka terlilit dengan kemiskinan. Setiap hari, keduanya bertahan hidup dengan membuat kerajinan dari bilah bambu berupa Tampah (alat tradisional untuk membersihkan beras).

Kakek Tukiman dan nenek Gisah, berbagi peran. Urusan memotong dan membelah batang bambu hingga menjadi bilah adalah urusan Tukiman. Sang istri tinggal mengayamnya menjadi lembaran. Yang kemudian dibentuk menjadi Tampah.

Baca Juga: Banyuwangi Jadi Pilot Project, PTPN I Tanam 10 Ribu Kelapa Genjah demi Hilirisas

Untuk satu Tampah, dibutuhkan dua hari untuk menyelesaikannya. Harganya pun tak lebih dari Rp 20 ribu. Tampah tersebut bisa pesanan dari warga atau jika tidak ada pesanan, akan dijual ke pasar melalui tetangganya.

"Sudah tua begini ya buat semampunya saja. Biasanya ada yang ambil tampah saya," pungkasnya.

Reporter: Irul Hamdani
Editor: Erwin Yohanes

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

Mandi Bareng Teman, Pelajar Sragen Tewas Tenggelam di Bengawan Solo Ngawi

Jasad korban berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada radius sekitar 50 meter dari titik awal ia dilaporkan tenggelam di kawasan Desa Mantingan, Kecamatan Mantingan.

Penyegaran Organisasi, Kasat dan Kapolsek Probolinggo Dimutasi

Kapolres mengajak seluruh jajaran Polres Probolinggo untuk terus menjaga profesionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai Presisi.

Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Pelaku diketahui merupakan komplotan pembobolan toko lintas kota dan provinsi.

Cuaca Akhir Pekan Jatim: 4 Daerah Diminta Waspada Hujan Lebat

Peta peringatan dini ini merepresentasikan nilai akumulasi curah hujan harian paling tinggi dalam skala satu kabupaten atau kota.

Gol Larin Selamatkan Kanada dari Kekalahan Saat Melawan Bosnia-Herzegovina

Tuan rumah Kanada harus puas bermain imbang 1-1 di laga pembukan grup B Piala Dunia 2026.

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Waspadai potensi turunnya hujan dengan intensitas ringan di beberapa wilayah.