Senin, 22 Jun 2026 05:05 WIB

Kisah Ketegangan Hoofy 9 Jam Mengikuti Proses Pemakaman Korban Corona

Proses pemakaman korban Corona di Sidoarjo (Foto-foto: Hoofy for jatimnow.com)
Proses pemakaman korban Corona di Sidoarjo (Foto-foto: Hoofy for jatimnow.com)

jatimnow.com - Masker dan alat pelindung diri (APD) lainnya jadi saksi bisu ketegangan sepanjang 9 jam proses pemakaman jenazah pasien positif Virus Corona (Covid-19) oleh beberapa orang di sebuah pemakaman Sidoarjo.

Ketegangan panjang itu dirasakan langsung oleh salah satu pria yang menyebut dirinya dengan nama Hoofy. Dia tidak sendirian saat itu. Melainkan bersama para pejuang kemanusiaan yang hanya dibekali senjata APD dan doa dalam melawan Covid-19 yang bisa saja menyerang sewaktu-waktu.

Baca Juga: Vidi Aldiano Meninggal, Erick Thohir: Terima Kasih Atas Karya, Suara, dan Kenangan

"Proses dari mengurus jenazah di rumah sakit hingga jenazah masuk liang lahat sekitar 9 jam," ucap Hoofy kepada jatimnow.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (27/3/2020).

Jenazah seorang korban Corona itu dimakamkan di kawasan Lingkar Timur, Sidoarjo, sekitar pukul 03.00 Wib, Kamis (26/3/2020). Menurut Hoofy, janazah korban dibawa dari rumah sakit menuju makam, sudah dalam kondisi terbungkus peti kayu.

Lantas siapa empat orang yang foto dan videonya viral sedang melakukan prosesi pemakaman itu?

"Dari relawan," jawab Hoofy.

Proses pemakaman korban Corona di SidoarjoProses pemakaman korban Corona di Sidoarjo

Hoofy mengaku, proses pemakaman saat  itu juga diikuti Plt. Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji, Kapolsek Sidoarjo Kota, serta sejumlah pejabat.

"Foto yang saya kirim ke sampean saya ambil dari radius sekitar 50 meter," ungkapnya.

Ia menambahkan, saat pemakaman tersebut, tidak ada satupun keluarga korban yang berada di lokasi. Bahkan pasien saat dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit, tak ada satu pun keluarganya yang datang.

Lalu siapa yang menggali makam hingga melakukan penutupan liang lahat?

"Yang menggali dan menguruk dari relawan warga sekitar," ucap Hoofy.

Dari pengalaman pertamanya mengikuti prosesi pemakaman pasien positif Corona itu, Hoofy ingat betul bahwa mengurus jenazah pasien Covid-19 itu menguras tenaga dan fikiran. Juga memerlukan beberapa hal penting serta standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.

Baca Juga: Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia

"Salah satu hal yang paling utama adalah kami yang mengikuti proses pemakaman harus memakai APD," bebernya.

Hoofy kemudian memaparkan SOP yang ia lihat dan ikuti saat itu. Pertama, setelah dari rumah sakit, jenazah dimandikan, dibungkus plastik lapis empat lalu dimasukkan peti. Sebelum dimakamkan, harus dikeluarkan berita acara yang harus ditandatangani kepolisian.

"Dengan catatan jenazah harus dimakamkan malam itu juga sesuai SOP atau maksimal empat jam setelah kematian," jelasnya.

Setelah urusan di rumah sakit rampung, kendala berikutnya yaitu mencari komplek makam. Hoofy pun membantu berkoordinasi untuk mendapatkannya. Namun masalah baru kembali muncul, yaitu siapa penggali kubur dan orang yang akan menguburkannya.

"Koordinasi ke sana kemari dilakukan. Akhirnya dapat tukang gali kubur dan yang akan menguburkannya, meski dengan segala cara dan catatan tetap pakai APD," sambung Hoofy.

Tiba waktunya jenazah diberangkatkan, ternyata sopir ambulans malah kabur karena tidak bersedia mengantar jenazah. Padahal jenazah dalam peti sudah di dalamnya. Peti dan kereta dorong itu diturunkan dan ditinggal di rumah sakit hingga akhirnya mendapat ambulans pengganti.

Baca Juga: Bocah 7 Tahun yang Hanyut di Selokan Driyorejo Ditemukan Meninggal

"Sebelum jenazah tiba di pemakaman ternyata para penggali kubur dan yang menguburkanpun lari ketakutan sebelum mayat datang. Setelah dilakukan komunikasi lagi akhirnya mereka bersedia. Dan prosesi pemakaman berjalan lancar," bebernya.

Menurut Hoofy, mengurus jenazah korban Corona jauh lebih mengerikan daripada mengurus jasad teroris. Sisi kemanusiaan sangat dominan dalam hal ini.

"Kami baru pulang jam 4 pagi. Sampai rumah langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri termasuk keramas, baru melaksanakan ibadah dan istirahat," kisahnya.

"Intinya adalah harus memantapkan hati bahwa ini adalah misi kemanusiaan, memakai APD. Yang paling utama tentunya berdoa kepada Tuhan," ungkap Hoofy.

Dari pengalamannya itu, Hoofy mengingatkan kepada semua orang di Indonesia agar mematuhi semua aturan dan anjuran pemerintah dalam upaya memutus rantai penyebaran dan penularan Covid-19.

"Di rumah saja jangan keluyuran, nongkrong atau sok bijak dalam menghadapi Virus Corona ini," tutupnya.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.