Senin, 15 Jun 2026 21:00 WIB

Menengok Embong Peti Gresik yang Kini Jadi Jalan Nyai Ageng Arem Arem

Jalan Nyai Ageng Arem Arem Gresik yang dulu dikenal dengan nama Embong Peti (Foto-foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)
Jalan Nyai Ageng Arem Arem Gresik yang dulu dikenal dengan nama Embong Peti (Foto-foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

jatimnow.com - Zaman dahulu, Pelabuhan Gresik merupakan pelabuhan terbesar dan terbaik di Pulau Jawa. Tak heran jika Gresik menjadi tujuan kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru nusantara hingga luar negeri seperti China, Arab dan Eropa.

Tome Pires, seorang penulis dan bendahara asal Portugis menuliskan kejayaan Pelabuhan Gresik dalam bukunya yang berjudul Suma Oriental (halaman 267-268). Dalam buku tersebut, ia banyak menceritakan pengalamannya saat menjelajahi nusantara pada abad ke-16.

Baca Juga: Pemancing Tenggelam di Kali Lamong Gresik Akhirnya Ditemukan

"Gresik dulu adalah kota perdagangan terbesar di Jawa," ucap Oemar Zaenuddin, pemerhati sejarah Gresik, Kamis (12/12/2019).

Pak Nud-sapaan akrab Oemar Zaenuddin melanjutkan, Gresik memiliki dua sungai besar yaitu Brantas dan Bengawan Solo. Brantas menjadi jalur distribusi barang menuju Mojokerto dan sekitarnya yang pernah menjadi pusat Kerajaan Majapahit.

Bangunan kuno yang berada di Jalan Nyai Ageng Arem Arem, GresikBangunan kuno yang berada di Jalan Nyai Ageng Arem Arem, Gresik

"Sementara Bengawan Solo menjadi jalur utama distribusi barang dari Gresik menuju Solo dan sekitarnya yang dulunya merupakan pusat kerajaan Mataram," jelas Pak Nud.

Baca Juga: Pemancing Tenggelam di Kali Lamong Gresik, Pencarian Terkendala Arus Deras

Tingginya aktivitas perdagangan di Gresik membuat kawasan-kawasan di sekitar pelabuhan menjadi kawasan strategis untuk membuka usaha. Hal itu bisa dilihat dari lokasi Pasar Gresik yang hanya berjarak 650 meter dari pelabuhan.

Setiap orang yang sering ke Pelabuhan Gresik, pasti tidak asing dan mengenal Jalan Nyai Ageng Arem Arem, yang merupakan jalan penghubung antara Jalan KH. Kholil dan Jalan H. Samanhudi. Sebab jalan ini berada di kawasan atau sekitar 650 meter dari pelabuhan.

Dulunya, Jalan Nyai Ageng Arem Arem disebut Embong Peti. Nama Embong Peti cukup dikenal karena menjadi pusat para perajin dan perdagangan peti.

Baca Juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah

Peti buatan Gresik berkualitas karena dikerjakan perajin yang mahir. Selain itu bahan yang digunakan juga terbuat dari kayu pilihan sehingga peti buatan Gresik terkenal kokoh, rapat dan tak mudah kemasukan air.

"Nah itulah sedikit cerita mengenai Jalan Nyai Ageng Arem Arem yang dulunya dikenal juga sebagai Embong Peti," tutup Pak Nud.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.