Senin, 15 Jun 2026 12:54 WIB

Kisah Dinda, Bocah Penjual Gorengan di Magetan

  • Penulis : Mita Kusuma
  • | Selasa, 13 Agu 2019 15:49 WIB
Dinda bersama buliknya (tantenya) di rumah neneknya, tempat ia tinggal
Dinda bersama buliknya (tantenya) di rumah neneknya, tempat ia tinggal

jatimnow.com - Lahir dalam keluarga broken home bukan keinginan Dinda Eka Wati, siswa kelas IV SDN 1 Kentangan, Magetan. Sehari-hari, bocah berumur 10 tahun itu rela berjualan gorengan setelah sekolah.

Setiap pagi, Dinda mengawali asa dari sebuah rumah di Desa Kentangan, Kabupaten Sukomoro, Kabupaten Magetan. Rumah berada paling ujung dusun berdekatan dengan sungai. Di rumah berdinding kayu itulah, Dinda berangkat mengais rejeki dengan sepeda buntut miliknya.

Baca Juga: Komitmen Agus Black Hoe: Infrastruktur Berkualitas Dongkrak Ekonomi Magetan

"Setelah pulang sekolah jam 12 siang, saya bantu nenek di dapur menyiapkan dagangan menggoreng tahu isi, bakwan, pisang goreng dan masih banyak lagi," ucap Dinda ditemui di rumahnya, Selasa (13/8/2019).

Setelah semua gorengan siap, Dinda mulai mengayuh sepedanya. Untuk menjual gorengan itu, ia menempuh rute yang cukup jauh hingga ke tengah Kota Magetan atau sekitar 5 km.

"Gorengan-gorengan. Ayo dibeli gorengannya," teriak Dinda tanpa canggung.

Dinda mengaku sudah jualan gorengan sejak satu tahun lalu karena keinginannya sendiri dan tanpa paksaan dari siapapun. Sebab, ayah kandungnya lari dari tanggungjawab dan tidak pernah memberikan uang sepeserpun untuk kebutuhannya.

"Bapak dan Ibu sudah pisah lama, saya tinggal bersama nenek," ungkapnya.

Dinda saat berjualan gorenganDinda saat berjualan gorengan

Dinda tidak ingat lagi sejak kapan orangtuanya berpisah. Yang dia ingat, dirinya dirawat neneknya hingga saat ini. Meski begitu, Endah Mulyahati, ibunya, masih kerap datang untuk membiayai sekolahnya.

Baca Juga: Mbok Yem, Pemilik Warung Tertinggi di Indonesia Tutup Usia

"Kasihan nenek cari uang terus. Saya pengen membantu nenek. Makanya saya jualan gorengan ini," tambahnya.

Keuntungan dari berjualan gorengan dipakai Dinda untuk uang tambahan biaya sekolah dan kehidupannya sehari-hari bersama sang nenek. Meski begitu, ada saja kecurangan para pembeli, mulai dari mengambil gorengan dengan jumlah lebih hingga membayar dengan uang yang sudah robek.

Dinda mengaku mendapatkan uang sebesar Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu setiap harinya, tergantung ramai tidaknya para pembeli.

"Kalau terjual semua bisa mencapai Rp 100 ribu. Karena gorengan yang saya bawa ada 100 jumlahnya. Saya kan menjualnya seribu setiap biji," tuturnya.

Baca Juga: Belanja di Pasar Murah Lembeyan Magetan, Warga Bisa Dapat Diskon Khusus

Untuk menghabiskan semua gorengannya, Dinda harus berkeliling mulai pukul 13.00 sampai 17.00 wib.

"Kalau jam lima sore sudah tidak ada yang beli lagi, saya langsung pulang," urainya.

Semangat Dinda menjalani hidup membuat sejumlah orang bersimpati kepadanya. Salah satunya Kapolres Magetan AKBP Muhammad Rifai yang menyerahkan bantuan berupa tas sejikah, sepatu sekolah, peralatan tulis dan buku kepada Dinda. Selain itu, sepeda baru juga diberikan kepada Dinda.

"Ya, kami memberikan kebutuhan untuk sekolahnya. Semoga bermanfaat dan bisa digunakan Dinda untuk sekolah," ungkap Rifai.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.