Jumat, 19 Jun 2026 04:12 WIB

Kisah Slamet, Mantan TKI asal Ponorogo Jalani Hidup dengan Satu Tangan

Slamet Riyadi, mantan TKI asal Ponorogo yang saat ini menjadi buruh tani
Slamet Riyadi, mantan TKI asal Ponorogo yang saat ini menjadi buruh tani

jatimnow.com - Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, justru menyisakan pengalaman kelam bagi Slamet Riyadi. Betapa tidak, selama menjadi TKI di Negeri Jiran, laki-laki 68 tahun asal Desa Kunti, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo ini justru kehilangan bagian tangan kanannya.

Slamet masih ingat betul bagaimana kecelakaan kerja yang menimpanya tahun 2004 silam lalu itu di Malaysia. Waktu itu, ia sedang mengerjakan proyek di lantai tiga. Tiba-tiba ia terjatuh dan sebuah balok beton penyangga lantai itu roboh menimpa tangan kanannya.

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

Saat itu juga, ia langsung dilarikan ke salah satu rumah sakit. Karena tulang tangan kanannya remuk, dokter mengambil tindakan amputasi. Langkah dokter itu terpaksa ia terima.

"Setelah kondisi saya sehat, saya memutuskan pulang ke Indonesia," kata Slamet ditemui di arel persawahan di desanya di sela pekerjannya memanggul padi, Sabtu (6/4/2019).

Memang, semenjak pulang ke kampung halamannya, Slamet memutuskan untuk kembali bekerja jadi buruh tani. Meskipun dengan kondisi terbatas dan tidak seperti buruh tani lainnya, ia tetap semangat demi menghidupi keluarganya.

Bila dilihat, saat bekerja, tumpukan padi diraihnya menggunakan tangan kiri. Kemudian, tumpukan padi diletakkan di pundak kirinya sembari tangan kirinya memegang erat tumpukan padi tersebut. Pelan-pelan, Slamet meletakan padi ke dekat mesin penggilingan.

"Yang penting sehat, tetap semangat bekerja," tambah Slamet.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Menurutnya, keterbatasan hanya bekerja dengan satu tangan tidak lantas membuat Slamet Riyadi merasa rendah diri. Justru dari kekurangan itulah terus memompa semangat untuk bekerja.

"Apalagi saya tulang punggung keluarga. Saya menghidupi dua anak dan istri saya," ungkapnya.

Slamet kembali bercerita, sepulang dari Malaysia, ia sempat putus asa lantaran tidak dapat bekerja kembali menjadi tukang bangunan. Namun keluarga dan teman-temannya terus memberikan motivasi. Belum lagi kedua anaknya yang membutuhkan biaya pendidikan.

Baca Juga: Jelang Ramadan Harga Bapokting di Ponorogo Terpantau Stabil

Sejak itulah, Slamet memutuskan menjadi buruh tani menggarap sawah orang lain. Pekerjaan yang ia jalani seperti mencangkul, menanam padi dan mengurus sawah.

Bahkan dengan hasil jerih payahnya itu, ia mampu menyekolahkan anaknya hingga di bangku perguruan tinggi.

"Selagi saya masih bisa dan sehat. Anak saya harus sekolah setinggi-tingginya, agar nasibnya tidak seperti saya," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.