Sabtu, 20 Jun 2026 01:40 WIB

Warga Ponorogo Terdoktrin Kiamat Pindah ke Kasembon Malang, Benarkah?

Polisi hingga MUI dan sejumlah tokoh agama serta pemerintahan di Malang dan Batu saat melakukan tabayyun soal isu doktrin kiamat di Polres Batu
Polisi hingga MUI dan sejumlah tokoh agama serta pemerintahan di Malang dan Batu saat melakukan tabayyun soal isu doktrin kiamat di Polres Batu

jatimnow.com - Isu kepindahan 52 warga Ponorogo ke Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang karena diduga terdoktrin kiamat dibantah oleh Camat Kasembon Hendra Trijahjono.

"Memang ada jamaah-jamaah di sana. Itu keterangan dari pondok pesantren. Tapi dalam rangka persiapan jelang kegiatan bulan Ramadan. Sehingga ada terjadi peningkatan jamaah biasa setiap tahun jelang bulan Ramadan," terang Hendra di Polres Batu, Rabu (13/3/2019).

Baca Juga: Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang, Nilai Investasi Capai Rp800 Miliar

Pihak kecamatan bersama kepolisian dan tokoh ulama di Kabupaten Malang juga telah melakukan kroscek ke salah satu ponpes di dusun itu mengenai aktivitas warga asal Ponorogo sebagaimana informasi yang beredar.

Baca juga: 

"Kita sudah mengklarifikasi langsung kepada Gus Muhammad Romli, pemimpin Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kasembon, Kabupaten Malang, kemarin. Pesantren itulah yang didatangi puluhan warga Ponorogo," terangnya.

Sementara itu, Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto mengakui telah ada pertemuan dari jajaran kecamatan, kepolisian, tokoh ulama dan pengasuh ponpes yang disebut mengajarkan doktrin tentang kiamat dan aliran Musa As.

"Dari hasil tabayyun sudah dilakukan pada hari Selasa (12/3/2019) dari mulai pukul 15.00-17.30 Wib dengan hasil informasi yang didapati itu tidak benar. Bagaimana kita mengkonter isu itu dengan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan tabayyun," tambah Budi.

Menurutnya, dari hasil penelusuran kepolisian, para tokoh ulama setempat dan laporan pengurus ponpes, memang ada beberapa warga tak hanya dari Ponorogo tapi juga daerah lainnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

"Total ada 573 santri dari jumlah itu ada 177 KK (Kepala Keluarga) yang nyantri di sana. Dari KK itu yang tinggal di Ponpes ada 132 KK, sedang yang tinggal di luar ada 45 KK. Ini data dari pengurus Ponpes," beber Budi.

Baca Juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar Seabad Gontor

Sementara ada 396 santri yang tidak berkeluarga sedang mondok di ponpes yang terletak di Desa Sukosari tersebut. 277 santri tinggal di dalam Ponpes, sementara 119 santri tinggal di luar Ponpes.

"Santri ini berasal dari Kasembon 51 orang, Kediri 106 orang, Lampung 50 orang, Ponorogo 42 orang, Jember 63 orang, Boyolali 45 orang, Sukoharjo, Karanganyar Jawa Tengah, Tuban, Blitar, Ngawi, Tulungagung, Surabaya, Jombang, Mojokerto, Nganjuk, Magelang dan Ngasem (Kediri)," ungkapnya.

Di tempat yang sama, perwakilan Mejelis Ulama Indonesia (MUI), Ibnu Mukti atau Gus Mukti menyatakan bahwa Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin tidak pernah menyebarkan ajaran menyimpang.

"Itu salah sekali kalau ada yang mengaitkan pondok ini dengan ajaran yang sesat atau ajaran islam terlarang lainnya," terang Gus Mukti yang juga pengasuh Ponpes Mamba'ul Huda, Pait, Kecamatan Kasembon ini.

Baca Juga: Pendaki Ilegal Gunung Semeru Berhasil Dievakuasi, Pengelola Jatuhi Sanksi

Gus Mukti juga menegaskan bahwa Ponpes asuhan Gus Romli itu merupakan bagian dari Ponpes Nahdatul Ulama (NU).

"Gus Rom ini Ponpes NU, bukan Ponpes beraliran islam sejenis HTI atau aliran sesat dan terlarang lainnya. Beliau sudah terdaftar dan pernah menjabat sebagai khatib syuria NU MWC Kasembon," jelasnya.

Terkait kabar yang beredar bahwa Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin menyebarkan informasi bahwa kiamat dan huru-hara akan tiba setelah Ramadhan, termasuk kabar kalau ada paceklik selama 3 tahun mulai 2019-2021, itu merupakan kabar yang tak benar.

"Kalau penjelasan kiamat itu pasti datang. Tapi tidak tahu kapan kejadiannya, tapi banyak sudut banyak tentang itu," tutupnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.