Indowood Expo 2026 Dibuka di Surabaya, Jatim Bidik Pasar Ekspor Global
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Kamis, 04 Jun 2026 17:11 WIB
jatimnow.com - Indowood Expo 2026 resmi dibuka di Grand City Convention & Exhibition dan Grand City Mall Surabaya, Kamis (04/6/2026). Ajang internasional tersebut menjadi panggung bagi Jawa Timur untuk memperkuat perannya sebagai pusat industri pengolahan kayu nasional sekaligus gerbang ekspor produk kehutanan Indonesia ke pasar dunia.
Pameran yang mempertemukan pelaku industri, investor, pembeli internasional, akademisi, dan pemangku kepentingan sektor kehutanan itu digelar di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk kayu yang berkelanjutan.
Baca Juga: IndoWood Expo 2026 Raup 2.049 Pengunjung, Perkuat Daya Saing Furnitur
Pesan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Jumadi, menegaskan bahwa Indowood Expo tidak hanya menjadi etalase produk kayu dan furnitur, melainkan wadah memperkuat investasi, inovasi, serta transformasi industri kehutanan nasional.
“Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan geopolitik, industri hasil hutan Indonesia justru menghadapi peluang baru. Dunia membutuhkan produk kayu yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis, memberikan nilai ekonomi, dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Khofifah dalam sambutan tertulisnya.
Jawa Timur saat ini menjadi salah satu basis industri pengolahan kayu terbesar di Indonesia dengan sekitar 1.332 unit usaha.
Beragam produk seperti plywood, furnitur, moulding, engineered wood, hingga produk kreatif berbasis kayu telah dipasarkan ke Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lainnya.
Nilai ekspor produk hasil hutan dan industri kayu Jawa Timur tercatat mencapai sekitar USD 2,5 miliar. Angka tersebut menjadikan sektor kehutanan dan industri kayu sebagai salah satu penyumbang penting bagi perekonomian daerah.
Selain kapasitas industri yang besar, Jawa Timur juga didukung ekosistem kehutanan yang terintegrasi. Produksi kayu dari hutan rakyat mencapai 3,5 juta hingga 4 juta meter kubik per tahun.
Baca Juga: Nilai Ekspor Produk Lamongan Tahun 2025 Tembus Rp22 Triliun
Pasokan tersebut diperkuat oleh dukungan Perhutani, program perhutanan sosial, jaringan logistik, pelabuhan internasional, tenaga kerja terampil, hingga akses pasar ekspor yang luas.
Untuk meningkatkan daya saing industri hasil hutan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan empat agenda utama.
Program tersebut mencakup penguatan hilirisasi produk kehutanan, pengelolaan hutan berkelanjutan, perluasan akses pasar global melalui sertifikasi dan inovasi desain, serta percepatan pembangunan ekonomi hijau yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Salah satu langkah yang telah dijalankan adalah pengembangan Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan Rakyat (SIPUHH-R).
Baca Juga: Ekspor Gak Harus Banyak! Jaya Sejati Logistik Siap Bantu Kirim Barang Satuan
Platform tersebut digunakan untuk memastikan ketelusuran asal-usul kayu rakyat sekaligus mendukung tata kelola dan sertifikasi keberlanjutan.
Khofifah mengajak seluruh pelaku industri memanfaatkan Indowood Expo 2026 sebagai momentum memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri hasil hutan dunia.
“Dari Surabaya, kita kirimkan optimisme kepada dunia bahwa industri kayu Indonesia tidak sekadar mengikuti perubahan global, tetapi ikut membentuk arah perubahan tersebut. Hutan bukan hanya warisan yang harus dijaga, melainkan modal masa depan yang perlu dikelola secara bijak untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Melalui penyelenggaraan Indowood Expo Surabaya, Jawa Timur berharap tercipta kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, pelaku usaha, investor, masyarakat, dan pasar internasional guna mempercepat transformasi industri kehutanan menuju sektor yang lebih produktif, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-85035-indowood-expo-2026-dibuka-di-surabaya-jatim-bidik-pasar-ekspor-global