Profil Gus Hafid Pimpinan Syubannul Muslimin di Balik Dugaan Skandal Asmara
- Penulis : Yanuar D
- | Minggu, 24 Mei 2026 15:00 WIB
jatimnow.com - Lantunan shalawat yang biasa menggema syahdu dari Majelis Ta'lim dan Shalawat Syubbanul Muslimin kini berkelindan dengan riuh bisik-bisik di jagat maya. Nama KH. Hafidzul Hakiem Noer, atau yang karib disapa Gus Hafid, mendadak jadi sorotan publik. Bukan karena safari dakwahnya yang menembus batas negara, melainkan karena sebuah noktah rumor asmara yang menerpa dirinya.
Belakangan ini, sang dai muda dituding telah melangsungkan pernikahan siri dengan seorang wanita. Isu miring tersebut mencuat dan menggelinding liar setelah sebuah akun TikTok bernama SABUN BATANG melakukan siaran langsung (live).
Baca Juga: Tragis! Nenek di Probolinggo Tewas Tertemper Kereta Api Blambangan Ekspres
Di hadapan layar gawai yang ditonton ribuan pasang mata, seorang wanita secara terbuka mengklaim adanya jalinan asmara hingga mahar senilai Rp 2,5 juta yang melandasi pernikahan siri mereka.
Bagi publik yang mengenal rekam jejaknya, kabar ini bak petir di siang bolong. Gus Hafid bukanlah sosok sembarangan.
Ia adalah Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan, pemegang tongkat estafet tradisi keilmuan yang kokoh, dan figur yang digadang-gadang punya masa depan cerah dalam memimpin kerumunan nahdliyin.
Darah pejuang NU mengalir kental di tubuh pria kelahiran 20 Januari 1985 ini. Tumbuh di lingkungan pesantren, ia adalah putra dari pasangan KH. Nuruddin dan Hj. Umi Salamah.
Dikutip dari Media PCNU, silsilahnya merujuk pada sang kakek, Kiai Hasyim Mino, sosok legendaris pendiri Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton yang juga membangun kantor PCNU pertama di wilayah tersebut.
Sejak belia, sang abah selalu menitipkan pesan yang terus digenggamnya hingga kini menjaga ilmu dan istiqamah dalam ibadah. Langkah kakinya dalam menuntut ilmu terbilang panjang.
Usai menyelesaikan pendidikan dasar di MI Nurul Qur’an, Gus Hafid menghabiskan hampir satu dekade (1996–2005) menempa diri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Selesai dari Lirboyo, dahaga spiritual membawanya terbang ke Rubaath Tarim di Hadramaut, Yaman, pada 2006.
Baca Juga: Siswi SD Asal Probolinggo Wakili Jatim di Ajang Duta Anak Indonesia 2026
Sekembalinya ke tanah air, Gus Hafid mengawinkan ilmu pesantren dengan dunia akademik lewat gelar Magister yang diraihnya di Universitas Islam Malang setahun lalu, mempertegas posisinya sebagai representasi dai moderat masa kini.
Melalui Majelis Syubbanul Muslimin, Gus Hafid memilih jalan dakwah yang sejuk dan tanpa menghakimi sebuah pendekatan yang memikat hati generasi muda.
Dakwahnya tidak lagi tersekat dinding-dinding masjid pedesaan, melainkan meluas ke berbagai provinsi hingga ke mancanegara.
Kejeliannya memanfaatkan media digital membawa Syubbanul Muslimin meraup lebih dari 3 juta pelanggan aktif di kanal YouTube.
Menariknya, pundi-pundi rupiah yang dihasilkan dari dunia digital tersebut dikembalikan sepenuhnya untuk menghidupkan majelis dan kegiatan sosial.
Baca Juga: Terima SK, DPC PPP Kota Probolinggo Pasang Target Raih Lima Kursi DPRD
Ia juga aktif di MWCNU Paiton, menjabat Wakil Ketua LDNU Kraksaan, hingga menjadi Bendahara PW Rijalul Anshor Jawa Timur. Legitimasi moral pun mengalir deras dari kiai-kiai sepuh Probolinggo.
Kini, di tengah ujian kepemimpinan dan integritas yang sedang bergulir di media sosial, Gus Hafid tampaknya memilih untuk tidak larut dalam polemik. Baginya, khidmah (pengabdian) kepada umat dan NU adalah rumah bersama yang harus dijaga dengan keteguhan hati.
Di saat ruang publik riuh memperbincangkan potongan video siaran langsung yang menyudutkan namanya, Gus Hafid memilih menjawabnya dengan konsistensi. Ia terpantau tetap melangkah dari satu undangan keagamaan ke undangan lain.
Editor : Yanuar D