Harga Melambung Tinggi, Pakar Sebut Momen Emas Tinggalkan Plastik
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Selasa, 14 Apr 2026 08:54 WIB
jatimnow.com - Memanasnya eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu efek berantai hingga ke Indonesia. Salah satu dampak yang paling terasa adalah melonjaknya harga kantung plastik di pasaran akibat terganggunya rantai pasok minyak dunia pasca-penutupan Selat Hormuz.
Namun, di balik kepanikan sektor industri dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menghadapi kenaikan biaya produksi, fenomena ini justru dinilai sebagai berkah terselubung (blessing in disguise) bagi kelestarian alam.
Baca Juga: Geopolitik Global Memanas, PLN NP Siapkan Jurus Amankan Pasokan Listrik Nasional
Pakar lingkungan Universitas Airlangga (Unair), Rizkiy Amaliyah Barakwan, memandang tingginya harga plastik ini sebagai momentum emas untuk memutus rantai ketergantungan masyarakat terhadap material berbahan dasar fosil.
“Wadah yang ramah lingkungan memiliki biodegradabilitas tinggi dan dapat terdekomposisi hanya dalam hitungan minggu. Penggunaannya jauh lebih baik karena meninggalkan jejak karbon yang rendah dan langsung mendukung ekonomi sirkular masyarakat, seperti menggerakkan roda ekonomi petani daun pisang hingga produsen kertas daur ulang,” jelas Rizkiy, Selasa (14/4/2026).
Menurut Rizkiy, mahalnya harga plastik "memaksa" pelaku usaha untuk kreatif mencari alternatif yang pada akhirnya membangun kesadaran kolektif. Hal ini terbukti dengan mulai maraknya kampanye UMKM di media sosial yang memviralkan transisi mereka menuju kemasan ramah lingkungan.
“Ini sangat penting, karena sustainability (keberlanjutan) tidak hanya bisa digerakkan oleh regulasi pemerintah, tetapi juga oleh pergeseran permintaan pasar. Lonjakan harga plastik ini justru membuka peluang besar bagi kita untuk keluar dari ketergantungan struktural terhadap material fosil impor dan beralih ke inovasi bahan lokal,” ungkapnya.
Baca Juga: Wadah Organik dan Refill Jadi Solusi Saat Harga Plastik Melambung
Meski demikian, Dosen Teknik Lingkungan UNAIR ini mengingatkan bahwa euforia kemasan ramah lingkungan tidak akan bertahan lama jika tidak dibarengi dengan sistem yang matang.
Pemerintah dituntut hadir untuk memberikan standardisasi edukasi terkait higienitas dan keamanan pangan. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan stimulus berupa insentif khusus bagi UMKM yang berani mengambil langkah berani beralih ke kemasan non-plastik.
Untuk memastikan langkah ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) pilar ke-8, 11, 12, 14, dan 15, Rizkiy menekankan pentingnya pendekatan life cycle thinking (pemikiran daur hidup). Artinya, konsumen dan pelaku usaha tidak sekadar mengganti bahan, tetapi juga paham cara mengelola limbahnya agar bisa benar-benar kembali ke alam tanpa menimbulkan masalah baru.
Baca Juga: Harga Plastik Meroket 80 Persen, Pakar Beri 'Resep' Bertahan untuk UMKM
Sebagai langkah taktis yang bisa segera dieksekusi, Rizkiy mendorong adanya kolaborasi aktif antara penjual dan pembeli.
"Masyarakat sebaiknya mulai menerapkan prinsip kurangi, gunakan ulang, dan ganti dengan alternatif ramah lingkungan. Di sisi lain, UMKM bisa mengedukasi dengan cara memberikan diskon jika pelanggan membawa wadah sendiri, atau menerapkan sistem refill (isi ulang) untuk menekan biaya kemasan," pungkasnya.
Editor : Dadang KurniaURL : https://jatimnow.id/baca-83739-harga-melambung-tinggi-pakar-sebut-momen-emas-tinggalkan-plastik