Harga Plastik Meroket 80 Persen, Pakar Beri 'Resep' Bertahan untuk UMKM
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Jumat, 10 Apr 2026 12:58 WIB
jatimnow.com - Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Teluk yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat rupanya membawa efek domino yang memukul telak perekonomian dalam negeri. Gangguan rantai pasok minyak dunia tersebut memicu lonjakan harga kemasan plastik di Indonesia hingga 30 sampai 80 persen pada periode April 2026.
Pakar ekonomi koperasi dan UMKM Universitas Airlangga (Unair), Atik Purmiyati, membeberkan bahwa sektor UMKM khususnya yang bergerak di bidang makanan dan minuman (Mamin) menjadi pihak yang paling menderita akibat gejolak global ini.
Baca Juga: Gerai UMKM Segera Dibangun di Kawasan Gereja Merah Probolinggo
"Bahan baku utama pembuatan plastik di Indonesia masih sangat bergantung pada impor, yakni mencapai 60 persen. Kenaikan harga plastik yang tiba-tiba ini jelas akan menambah biaya produksi dan menggerus keuntungan usaha UMKM, apalagi mereka memiliki keterbatasan modal dan sumber daya manusia," terang Atik, Jumat (10/4/2026).
Di tengah himpitan lonjakan biaya produksi, Atik mendesak para pelaku UMKM untuk tidak menyerah pada keadaan dan mulai memutar otak. Ia menyarankan sejumlah strategi taktis, mulai dari mengurangi volume produk tanpa menaikkan harga jual, hingga melakukan substitusi ke bahan kemasan ramah lingkungan (biodegradable).
Beberapa alternatif pengganti plastik konvensional yang bisa dijajaki antara lain kemasan dari pati jagung, tebu, singkong (cassava bag), hingga serat nanas. Meski demikian, Atik menyadari bahwa transisi ke kemasan ramah lingkungan belum masif karena kendala harga.
Baca Juga: Modal Usaha ACC Danaku Dongkrak Omzet Kuliner di Surabaya
Sebagai solusinya, Atik menyarankan sistem pembelian patungan. "Pelaku usaha bisa melakukan pembelian bahan kemasan ramah lingkungan secara kolektif dalam jumlah besar. Ini bertujuan agar mereka bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah karena mencapai economies of scale," jelasnya.
Selain itu, edukasi konsumen juga tak kalah penting. Melalui pendekatan ekonomi perilaku (behavior economics), UMKM dapat mendorong pelanggannya untuk membawa tas belanja sendiri atau menerapkan prinsip isi ulang (refill) guna menekan biaya operasional.
Dari kacamata makro, Atik menegaskan bahwa beban krisis ini tidak bisa hanya dipikul oleh pelaku UMKM. Pemerintah dituntut hadir sebagai regulator pasar untuk mencegah liarnya pergerakan harga plastik di pasaran.
Baca Juga: Dihadiri Ribuan Pengunjung, Event Karnaval SCTV 2026 Berdampak ke UMKM Jember
Langkah konkret yang harus segera dieksekusi pemerintah meliputi pengawasan ketat terhadap rantai distribusi bahan baku plastik, pengendalian dan penindakan tegas terhadap spekulan harga, serta pemberian insentif bagi industri hulu plastik agar pasokan domestik tetap stabil.
"Berdasarkan Sistem Data Terpadu Koperasi dan UMKM (SIDT-UMKM), sektor ini berkontribusi 60 hingga 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap 97 persen tenaga kerja nasional. Karena itu, perlu sinergi kuat dari pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi agar pilar ekonomi kita ini tidak runtuh dihantam gejolak politik global," pungkasnya.
Editor : Dadang KurniaURL : https://jatimnow.id/baca-83644-harga-plastik-meroket-80-persen-pakar-beri-resep-bertahan-untuk-umkm