Gempa Manado 7,6 SR, Saatnya Pakai Fondasi Tahan Gempa
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Kamis, 09 Apr 2026 11:24 WIB
jatimnow.com - Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR yang mengguncang wilayah Manado dan sekitarnya, Kamis (2/4/2026) pagi, memicu korban jiwa dan kerusakan bangunan.
Peristiwa tersebut kembali membuka persoalan lama, seberapa siap konstruksi bangunan di Indonesia menghadapi gempa.
Baca Juga: Terdampak Gempa Pacitan, Bangunan di Kota Blitar Ini Ambruk
Guncangan terjadi pukul 06.48 WITA dengan pusat di laut, sekitar 132 kilometer barat laut Ternate, Maluku Utara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memutakhirkan magnitudo dari 7,3 menjadi 7,6.
Gempa berkedalaman 62 kilometer itu juga sempat memicu peringatan dini tsunami di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Dampaknya langsung terasa di darat. Sejumlah bangunan rusak, termasuk Gedung KONI Sario di Kota Manado yang runtuh dan menelan korban jiwa. Warga pesisir sempat berlarian menjauhi pantai setelah peringatan disiarkan.
Indonesia berada di jalur cincin api Pasifik, kawasan yang rawan aktivitas seismik. Dalam kondisi seperti itu, kualitas bangunan menjadi penentu keselamatan.
Direktur PT Cipta Anugerah Indotama, Hadi Wardoyo, mengingatkan bahwa korban dalam gempa kerap bukan disebabkan getaran, melainkan bangunan yang roboh.
“Pada dasarnya, gempa tidak membunuh, tetapi reruntuhan bangunan yang membunuh,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menyebut konstruksi fondasi berperan penting. Fondasi yang kuat sekaligus lentur mampu meredam energi gempa dan mencegah keruntuhan struktur.
Baca Juga: Gempa Tektonik M6,2 Guncang Pacitan, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Salah satu teknologi yang diklaim telah teruji adalah Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB), pengembangan dari fondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) yang ditemukan pada 1976 di Surabaya. Sistem tersebut dirancang untuk bangunan bertingkat menengah di atas tanah lunak.
Menurut Hadi, prinsip kerja fondasi tersebut membuat bangunan berperilaku seperti kapal saat diterjang gelombang. Energi gempa disebar ke tanah, bukan terkonsentrasi pada satu titik struktur.
Pengalaman di lapangan menjadi rujukan. Saat gempa dan tsunami besar di Aceh pada 2004, puluhan bangunan dengan fondasi KSLL tetap berdiri.
Hal serupa terjadi di Padang pada 2009, ketika bangunan yang menggunakan sistem tersebut masih dapat difungsikan.
Teknologi serupa juga telah diterapkan di Manado, antara lain pada Gedung RSUP Kandou dan CTI Centre sejak 2010.
Baca Juga: Lima Kereta Berhenti Luar Biasa Akibat Gempa Magnitudo 5,5 di Pacitan
Hadi menyatakan pengembangan fondasi terus berlanjut hingga menjadi KJRB pada 2016. Perusahaannya kini memegang hak pengembangan teknologi tersebut setelah wafatnya penemu, Ryantori, pada 2020.
“Teknologi harus terus hidup. Ini bagian dari ilmu pengetahuan yang manfaatnya nyata bagi keselamatan manusia,” katanya.
Ia mendorong pemerintah memasukkan standar fondasi tahan gempa dalam kebijakan pembangunan, terutama di wilayah rawan seperti Sulawesi Utara dan Maluku.
Tanpa pembenahan konstruksi, gempa serupa berpotensi kembali memakan korban, bukan karena kekuatan alam semata, melainkan lemahnya bangunan yang berdiri di atasnya.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83612-gempa-manado-76-sr-saatnya-pakai-fondasi-tahan-gempa