Jalankan Instruksi Presiden, Gresik-Lamongan Matangkan Kolaborasi Wujudkan PSEL
- Penulis : Sahlul Fahmi
- | Rabu, 08 Apr 2026 14:36 WIB
jatimnow.com – Menindaklanjuti instruksi Presiden RI Prabowo Subianto terkait percepatan target zero waste energy nasional, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dan Lamongan resmi merapatkan barisan. Kedua daerah siap berkolaborasi dalam proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis aglomerasi Surabaya Raya tahun 2026.
Langkah konkret sinergi ini mengemuka saat Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, melakukan kunjungan kerja dan meninjau langsung operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ngipik bersama Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Tingkatkan Indeks Harapan Hidup, Pemkab Lamongan Ajak 600 Lansia Peringati HLUN
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani memaparkan, proyek Waste to Energy (WtE) ini akan mengintegrasikan tata kelola sampah dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan. Nantinya, energi listrik yang dihasilkan dari pembakaran sampah tersebut akan dibeli langsung oleh PT PLN (Persero) sebagai bagian dari transisi energi baru terbarukan (EBT).
"Ke depan kolaborasi penanganan sampah atau TPST terintegrasi sesuai petunjuk Presiden yang ditujukan kepada Kabupaten Gresik dan Kabupaten Lamongan untuk mendukung program Kementerian LH yaitu pengolahan sampah menjadi energi listrik," ujarnya.
Untuk mendukung program Kementerian Lingkungan Hidup ini, potensi sampah yang akan dikirim ke lokasi PSEL dari Kabupaten Gresik mencapai 250 ton per hari. Sedangkan dari Kabupaten Lamongan ditargetkan menyuplai 100 ton per hari.
Untuk mematangkan skema logistik tersebut, Gus Yani berencana melakukan kunjungan balasan ke Lamongan guna menentukan titik temu Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang paling efisien bagi kedua wilayah.
Baca Juga: Bupati Gresik Minta Penyedia Jasa Jaga Intregitas, Bebas Korupsi dan Gratifikasi
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi memberikan apresiasi tinggi terhadap modernisasi tata kelola persampahan di TPA Ngipik Gresik. Ia secara khusus menyoroti keberhasilan Gresik dalam menerapkan teknologi landfill mining (penambangan sampah lama) dan Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mereduksi tumpukan sampah.
"Kami datang untuk belajar banyak dari TPA Ngipik, terutama kelebihan sistem landfill mining yang belum diterapkan di Lamongan. Kami juga akan segera menyusun Memorandum of Understanding (MoU) antardaerah untuk memecahkan problem sampah bersama-sama," ungkap Yuhronur.
Lebih lanjut, Yuhronur juga tertarik dengan inovasi DLH Gresik yang sukses mendaur ulang sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi berbagai varian produk bernilai ekonomis, seperti pakan ternak, pakan burung, dan pelet ikan.
Baca Juga: Hari Jadi ke-457 Lamongan, Momen Perkuat Basis Ekonomi Lewat Sektor Pangan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah, menambahkan bahwa kolaborasi antarkabupaten ini menjadi kunci utama terwujudnya sistem persampahan modern.
"Saat ini, capaian pengelolaan sampah di Provinsi Jawa Timur sudah menyentuh angka 52,7 persen, dan itu yang tertinggi secara nasional. Melalui kongsi lintas pemerintah daerah ini, kami optimis pengelolaan sampah terintegrasi dapat mendorong terwujudnya lingkungan yang bersih dan berkelanjutan," pungkas Sri Subaidah.
Editor : Dadang Kurnia