BI dan Pemprov Jatim Rancang Strategi Jaga Ekonomi Hadapi Gejolak Timur Tengah
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Minggu, 05 Apr 2026 13:30 WIB
jatimnow.com - Eskalasi konflik geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah diprediksi akan membawa efek rambatan terhadap perekonomian global dan nasional. Merespons dinamika tersebut, Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai merapatkan barisan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah yang tengah berada dalam tren positif.
Sepanjang 2025, fundamental ekonomi Jawa Timur terbukti solid dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Modal penting ini didorong untuk terus dipertahankan melalui kolaborasi adaptif antar pemangku kepentingan.
Baca Juga: Beasiswa LPPD Jatim 2026 Dibuka, Siapkan Kuota Kampus Al-Azhar Mesir
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi daerah tidak bisa berdiri sendiri dan harus diperkuat lewat sinergi lintas sektoral.
“Diperlukan sinergi dan adaptasi yang cepat untuk menghadapi tantangan, sekaligus menangkap peluang di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini,” tegas Ibrahim melalui siaran tertulisnya, Minggu (5/4/2026)
Sejalan dengan arahan BI, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan posisi strategis Jatim yang kini memikul peran sebagai Gerbang Baru Nusantara. Untuk menjaga kesinambungan ekonomi, Pemprov Jatim memfokuskan strategi pada penguatan kerja sama perdagangan antar-daerah dan penciptaan iklim investasi yang kondusif.
“Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jatim memegang peran vital dalam menjaga stabilitas pasokan Nusantara. Upaya ini terus kami dorong melalui percepatan hilirisasi komoditas strategis, penguatan rantai distribusi bahan baku olahan, hingga peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),” papar Khofifah.
Sebagai bentuk dukungan konkret dari sisi advisory, Bank Indonesia Jawa Timur telah menyerahkan Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) triwulanan kepada Gubernur Jatim. Laporan yang juga menjadi rangkaian menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) pada September 2026 mendatang ini memuat tujuh rekomendasi kebijakan utama:
Baca Juga: Jatim Raih Penghargaan Kategori Pemda Terbaik Penurunan Pengangguran
1. Pembangunan dan integrasi infrastruktur distribusi barang.
2. Percepatan investasi untuk mendukung hilirisasi industri, khususnya pada komoditas pertanian unggulan.
3. Penguatan ketahanan pangan dan agribisnis sebagai instrumen pengendalian inflasi daerah.
4. Pengembangan sektor pariwisata, ekonomi syariah, dan UMKM, yang didukung optimalisasi penyaluran kredit produktif.
Baca Juga: Jatim Raih Penghargaan Kategori Pemda Terbaik Penurunan Pengangguran
5. Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) pasca-penerapan kebijakan opsen pajak.
6. Percepatan dan perluasan digitalisasi fiskal serta sistem pembayaran masyarakat.
7. Peningkatan produktivitas tenaga kerja dan percepatan pemerataan kesejahteraan di kawasan perdesaan.
Editor : Dadang Kurnia