Fintech dari Sidoarjo Tembus Nasional, Bimasakti Perluas Akses Keuangan
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Selasa, 31 Mar 2026 11:14 WIB
jatimnow.com - Industri fintech Indonesia tak lagi didominasi Jakarta. Dari Sidoarjo, PT Bimasakti Multi Sinergi tumbuh menjadi pemain nasional dengan layanan pembayaran digital yang menjangkau berbagai daerah.
Perjalanan tersebut membuka akses keuangan lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha di luar pusat ekonomi.
Baca Juga: AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional
Berawal dari kebutuhan transaksi di daerah, Fintech Bimasakti mengembangkan solusi pembayaran digital yang kini membentuk ekosistem layanan.
Perusahaan mengelola sejumlah platform seperti Winpay sebagai payment gateway, SpeedCash untuk dompet digital, hingga Rajabiller yang melayani sistem H2H multi biller.
Ekspansi tersebut berdampak langsung pada pelaku usaha kecil dan menengah. Akses pembayaran yang lebih mudah membantu transaksi berjalan lebih efisien, sekaligus mempercepat adopsi ekonomi digital di wilayah yang sebelumnya belum terlayani optimal.
VP Regulator and State Authority Bimasakti, Novandy Bambang Pramana, mengatakan perusahaan sejak awal melihat kebutuhan layanan digital tersebar di berbagai daerah, bukan hanya kota besar.
“Perjalanan dari Sidoarjo hingga berkembang secara nasional merupakan komitmen kami menghadirkan solusi pembayaran yang inklusif. Kebutuhan layanan digital tidak hanya berada di kota besar, sehingga kami membangun sistem yang dapat menjangkau mitra dan pengguna lebih luas, dengan tetap menjaga keamanan dan keandalan layanan,” ujar Novandy, Selasa (31/3/2026).
Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menilai kemunculan pemain dari daerah memperkuat pemerataan inovasi. Pertumbuhan tersebut memberi peluang lebih setara bagi masyarakat dalam mengakses layanan keuangan digital.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menyebut tren tersebut sebagai sinyal positif bagi industri.
Baca Juga: Asyik! Belanja di Indomaret Sekarang Bisa Bayar Pakai QRIS DANA
“Pertumbuhan fintech dari daerah membuka akses layanan keuangan yang lebih merata. Kondisi ini penting untuk memberi kesempatan yang setara bagi masyarakat dan pelaku usaha, sekaligus memperkuat ekosistem fintech nasional,” kata Firlie.
VP Regulator & State Authority Bimasakti, Novandy Bambang Permana (kelima dari kiri) dan AVP Regulator & State Authority Bimasakti, Dimas Bayudira (keempat dari kiri) saat menerima sertifikasi ISO 27001: 2022 dari TUV Rheinland di Jakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: Bimasakti for jatimnow.com).
Di tengah ekspansi bisnis, isu keamanan menjadi perhatian. Bimasakti memperkuat tata kelola sistem dengan meraih sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 dari lembaga global TUV Rheinland. Standar tersebut mengatur sistem manajemen keamanan informasi yang digunakan secara internasional.
Novandy menjelaskan penerapan standar keamanan telah berjalan sejak 2015 dan kini diperluas ke area strategis, mulai dari pengembangan sistem hingga operasional teknologi informasi.
“Ruang lingkup sertifikasi mencakup layanan utama seperti pengelolaan sumber dana, QRIS, payment initiation, acquiring, hingga remitansi. Dengan cakupan tersebut, pengamanan data dapat diterapkan secara menyeluruh di seluruh ekosistem layanan,” ujarnya.
Baca Juga: Tips Aman Menggunakan Paylater, Solusi Cerdas Tanpa Jebakan Utang
AFTECH memandang langkah tersebut penting untuk menjaga kepercayaan publik di tengah pertumbuhan transaksi digital yang kian masif.
“Penerapan standar keamanan global menunjukkan komitmen industri dalam meningkatkan perlindungan data. Upaya tersebut mendukung ekosistem fintech yang aman dan berkelanjutan,” kata Firlie.
Lebih dari dua dekade beroperasi, Bimasakti kini mengantongi lisensi sebagai Penyedia Jasa Pembayaran dari Bank Indonesia, termasuk pengelolaan transaksi QRIS.
Dengan jaringan mitra yang terus berkembang, perusahaan berupaya memperluas akses layanan keuangan sekaligus mempercepat inklusi digital di berbagai daerah.
Editor : Ali Masduki