Minggu, 21 Jun 2026 04:42 WIB

Miliki Nilai Historis, Wagub Emil Rayakan Lebaran Ketupat di Trenggalek

  • Penulis : Bramanta
  • | Sabtu, 28 Mar 2026 15:15 WIB
Wagub Jatim, Emil Dardak saat bersilaturahmi di momen lebaran ketupat di Trenggalek. (Foto: Bramanta/jatimnow.com)
Wagub Jatim, Emil Dardak saat bersilaturahmi di momen lebaran ketupat di Trenggalek. (Foto: Bramanta/jatimnow.com)

jatimnow.com - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak merayakan lebaran ketupat di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Didampingi istrinya, Arumi Bachsin, Emil bersilaturahmi dengan tokoh agama di Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan Trenggalek. Tradisi lebaran ketupat di wilayah tersebut bermula dari pondok pesantren ini yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Meski di beberapa daerah juga menggelar tradisi lebaran ketupat, namun bagi Emil Dardak tradisi di Durenan Trenggalek ini memiliki kesan berbeda karena nilai historisnya. Dalam tradisi ini, setiap warga akan melakukan silaturahmi dan disuguhkan makanan ketupat lengkap dengan sayur nangka serta aneka lauk pauk lain.

Baca Juga: Bank Jatim Salurkan CSR ke Trenggalek Berupa Floor Projector Highlight

"Tradisi lebaran ketupat atau kupatan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih terjaga hingga saat ini," ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Dalam tradisi tersebut, Emil berkesempatan untuk memberangkatak arak-arakan tumpeng berisi ketupat. Tumpeng setinggi dua meter ini diarak keliling desa dan warga berebut ketupat di dalamnya saat tiba di garis finish. Setiap tahun Emil selalu merayakan lebaran ketupat di Trenggalek. Selain berkumpul dengan keluarga besar, Emil juga bersilaturahmi ke sejumlah tokoh ulama.

Baca Juga: JLS di Tulungagung Telah Rampung Pembangunannya, Tiga Kabupaten Sudah Terhubung

"Selain saya masih memiliki keluarga di Trenggalek silaturahmi yang tepat adalah saat lebaran ketupat," tuturnya.

Salah satu keluarga Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan Trenggalek, Muhammad Al Haidar menceritakan, tradisi kupatan sudah ada sejak ratusan tahun silam. Tradisi ini bermula karena kebiasaan keluarga pondok yang melakukan puasa sunnah Syawal usai merayakan Lebaran. Setelah selesai puasa keluarga pondok baru menggelar open house. Tradisi ini turun temurun terjaga hingga saat ini, dan menjadi kebiasaan warga lainnya.

Baca Juga: Penutupan Jalan Utama Tulungagung - Trenggalek Tertunda, Ini Alasannya

"Karena keluarga pondok diajarkan untuk puasa sunnah syawal, warga tidak berani sowan ke mbah kyai, baru sowan setelah puasa Syawal selesai" pungkasnya.

Editor : Bramanta
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.