Riset UINSA Temukan Mikroplastik di Daun Padi hingga Lipstik Waterproof
- Penulis : Ali Masduki
- | Kamis, 12 Mar 2026 13:13 WIB
jatimnow.com - Zat plastik berukuran mikroskopis kini tak lagi sekadar mengapung di lautan, melainkan sudah mendarat di atas meja makan dan menempel di wajah manusia.
Temuan kolaborasi mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya dan ECOTON mengungkap fakta mengejutkan mengenai sebaran pencemaran mikroplastik yang telah mengontaminasi padi, hewan air, hingga produk kosmetik bibir.
Baca Juga: Tren Kecantikan 2026, Rever Academy Surabaya Rilis Gaya Ikonik
Dalam riset terbaru yang dibedah pada Seminar Pencemaran Mikroplastik di Kampus UINSA Gunung Anyar, Kamis (12/3), terungkap bahwa empat dari lima produk kosmetik bibir yang diuji positif mengandung mikroplastik.
Satu sampel bahkan menyimpan hingga 112 partikel plastik. Temuan ini sangat mengkhawatirkan karena produk pemulas bibir bersifat leave-on atau menempel lama, sehingga partikel polimer tersebut rawan tertelan tanpa sengaja.
"Mikroplastik ini muncul bukan cuma dari bahan dasar kosmetiknya, tapi juga dari kemasan. Produk yang bergliter atau tahan air (waterproof) sebenarnya mengandung polimer plastik yang sengaja ditambahkan agar awet di kulit," ungkap peneliti mikroplastik kosmetik, Kallista Maharani.
Sekretaris Prodi Biologi UINSA, Atiqoh Zummah, menjelaskan bahwa penggunaan bahan seperti polyethylene pada kosmetik bertujuan agar produk sulit terserap kulit sehingga produsen bisa mengklaim tahan lama. Namun, keberadaan polimer ini justru membawa risiko kesehatan bagi pemakainya.
Ancaman tidak berhenti di meja rias. Di sektor pangan, partikel plastik berbentuk serat (fiber) ditemukan menempel pada permukaan daun padi.
Serat yang diduga berasal dari limbah tekstil di udara ini berisiko menghambat proses fotosintesis dan menurunkan produktivitas panen nasional.
Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi, menilai hasil riset ini sebagai peringatan keras bagi masyarakat.
Baca Juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah
Menurutnya, mahasiswa biologi memiliki kemampuan unik untuk "menerjemahkan" keluhan alam, mulai dari capung, kodok, hingga tanaman, yang kini semuanya telah tercemar sampah plastik.
Jalur perpindahan plastik ini bahkan merambah hingga ke gua-gua di Lamongan. Peneliti menemukan bahwa 100 persen sampel kotoran (guano) kelelawar telah terkontaminasi.
Karena kelelawar memangsa serangga yang terpapar plastik, mereka menjadi jembatan perpindahan polutan di rantai makanan.
Masalahnya, kotoran kelelawar sering diolah menjadi pupuk organik, yang artinya plastik tersebut berpotensi kembali lagi ke lahan pertanian dan masuk ke tubuh manusia lewat hasil panen.
Baca Juga: Indomobil eMotor QT Meluncur di Surabaya, Motor Listrik Stylish Rp16 Jutaan
Selain pada padi dan kelelawar, katak di lahan pertanian juga diketahui mengandung rata-rata 9,25 partikel mikroplastik per gram. Angka ini menempatkan amfibi sebagai indikator buruknya kualitas ekosistem perairan tawar saat ini.
Guna memutus rantai polusi ini, para peneliti mendesak masyarakat untuk segera meninggalkan gaya hidup sekali pakai.
Langkah nyata seperti beralih ke wadah guna ulang dan berhenti membakar sampah plastik menjadi cara paling efektif untuk melindungi diri dari kepungan mikroplastik yang kian masif.
Editor : Ni'am Kurniawan