Minggu, 14 Jun 2026 09:54 WIB

Konflik AS-Israel vs Iran Dikhawatirkan Bikin Pasar Properti Indonesia Lesu

Properti (ilustrasi)
Properti (ilustrasi)

jatimnow.com - Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel vs Iran yang telah berlangsung hampir sepekan kembali meningkatkan risiko geopolitik global. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, termasuk sektor properti Indonesia.

Konflik di Timur Tengah memang tidak serta-merta menghentikan transaksi rumah atau apartemen di Indonesia. Namun, sektor properti sangat sensitif terhadap stabilitas makroekonomi dan sentimen jangka panjang.

Baca Juga: Sasar Proyek Properti Elite, Raksasa Sanitasi Global LIXIL Ekspansi ke Surabaya

"Karena itu, dampaknya lebih bersifat tidak langsung, melalui beberapa jalur transmisi ekonomi," kata Head of Research Services, Colliers Indonesia, Ferry Salanto melalui siaran tertulis yang diterima jatimnow.com, Kamis (5/3/2026).

Ferry melanjutkan, terdapat empat mekanisme utama yang perlu dicermati. Pertama, eskalasi konflik berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, dimana penutupan Selat Hormuz nyatanya mengganggu jalur distribusi energi global.

Sebagai negara yang masih mengimpor energi, Indonesia rentan terhadap tekanan inflasi akibat kenaikan biaya transportasi dan logistik. Inflasi yang meningkat dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

"Bagi sektor properti, suku bunga merupakan variabel kunci karena mayoritas pembelian rumah kelas menengah masih mengandalkan KPR. Kenaikan suku bunga akan langsung memengaruhi keterjangkauan cicilan dan daya beli," ujarnya.

Mekanisme kedua, ketidakpastian global sering memicu aliran dana keluar (capital outflow) menuju aset yang lebih aman seperti emas, dolar AS, hingga obligas. Hal ini berpotensi melemahkan rupiah.

Ferry melenjutkan, pelemahan kurs ini meningkatkan biaya material impor seperti elevator serta komponen teknis gedung bertingkat lainnya yang sifatnya high-tech. Artinya, proyek high-rise menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dibanding rumah tapak, karena proporsi material impornya relatif lebih besar.

"Hal ini berpotensi menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual," ucap Ferry.

Baca Juga: Geopolitik Global Memanas, PLN NP Siapkan Jurus Amankan Pasokan Listrik Nasional

Ketiga, jika pelemahan rupiah cukup tajam dan permintaan pasar melambat, pengembang cenderung menunda peluncuran proyek baru. Fokus biasanya dialihkan pada penjualan stok yang ada serta penyesuaian spesifikasi untuk mengendalikan biaya.

"Namun, proyek yang telah memasuki tahap konstruksi umumnya tetap berjalan demi menjaga arus kas dan kredibilitas perusahaan," kata dia.

Mekanisme terakhir, properti adalah sektor yang sangat dipengaruhi persepsi jangka panjang. Dalam kondisi ketidakpastian, pasar biasanya memasuki fase wait and see. Dimana investor menunda ekspansi, sementara konsumen menunda pembelian.

Ferry pun mengungkapkan beberapa segmen yang dinilainya lebih sensitif terhadap kondisi ini. Yakni segmen apartemen kelas menengah atas yang banyak dibeli investor.

Kemudian, properti yang pembeliannya bersifat spekulatif. Selanjutnya, pengembang dengan penggunaan utang dalam porsi besar dibandingkan modal sendiri untuk membiayai proyeknya.

Baca Juga: Harga Melambung Tinggi, Pakar Sebut Momen Emas Tinggalkan Plastik

Setelah itu ada segmen hotel berbasis MICE dan pusat perbelanjaan yang sangat bergantung pada konsumsi dan aktivitas bisnis.

Menurut Ferry, segmen menengah ke bawah juga relatif rentan karena sangat sensitif terhadap kenaikan bunga KPR dan inflasi kebutuhan pokok.

Sementara itu, rumah tapak yang dibeli untuk kebutuhan hunian relatif lebih resilien karena permintaannya berbasis kebutuhan dasar, bukan spekulasi. Kawasan industri berbasis aktivitas manufaktur riil juga cenderung lebih stabil.

"Terutama jika didukung investasi jangka panjang, meskipun tetap dipengaruhi kondisi permintaan global," ucapnya.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.

Curi Uang Kotak Amal Masjid, Pria di Blitar Diarak Warga

Pihak takmir masjid dan warga jemput pelaku di rumah, kini pelaku sudah diserahkan ke pihak berwajib.