Sabtu, 13 Jun 2026 12:51 WIB

Psikolog Unair Ungkap Alasan Tarot Populer di Generasi Z

Kartu tarot dianggap memberikan kejelasan arah hidup dan mengurangi rasa gelisah. (Foto: Ilustrasi/Gemini)
Kartu tarot dianggap memberikan kejelasan arah hidup dan mengurangi rasa gelisah. (Foto: Ilustrasi/Gemini)

jatimnow.com - Tarot, yang dulunya dianggap sebagai praktik esoteris, kini menjadi perbincangan hangat di kalangan Generasi Z.

Fenomena ini menarik perhatian Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair), Dian Kartika Amelia Arbi. Ia pun memberikan pandangannya dari sudut pandang psikologi.

Baca Juga: BTN Gandeng UNAIR, Perkuat Literasi Finansial dan Ekosistem Kampus Digital

Dain bilang, generasi Z, yang seringkali dihadapkan pada tekanan dan tantangan unik, menemukan cara-cara tersendiri untuk mengelola emosi mereka.

Salah satunya adalah melalui kartu tarot, yang dianggap memberikan kejelasan arah hidup dan mengurangi rasa gelisah.

Dian menjelaskan bahwa tarot bukanlah hal baru, namun popularitasnya di kalangan Gen Z patut dipertanyakan.

"Dari perspektif psikologi, ini adalah salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak dan merasa tidak berdaya, mereka berusaha mencari penjelasan eksternal. Hal itu diharapkan memberikan rasa tenang," ujarnya.

Pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan untuk memprediksi atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sehingga mengurangi kecemasan dan menjadi coping mechanism.

Baca Juga: Kekerasan di Daycare, Psikolog Ingatkan Bahaya Trauma Anak dan Mom-Shaming

"Misalnya, karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi, mereka mengalami kecemasan. Tarot menawarkan narasi tentang diri mereka tanpa judgement, yang bisa dianggap menenangkan," imbuhnya.

Namun, Dian juga mengingatkan tentang dampak negatif dari penggunaan tarot. "Jika dijadikan pendorong evaluasi yang membuat individu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal yang bisa menjadi warning ketika terlalu mengandalkan pemikiran yang ditawarkan tarot, yang menghambat problem solving," tuturnya.

Pemikiran bahwa apa yang terjadi sudah ditakdirkan dapat menghambat individu untuk berusaha memperbaiki situasi dirinya.

Baca Juga: Jangan Terjebak Klenik, Begini Cara Elegan Membaca Narasi Hidup Lewat Tarot

Dalam psikologi, hal ini disebut self-fulfilling prophecy. "Bukan ramalan atau prediksi itu yang nyata terjadi, tapi karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada perilaku yang kita prediksi sebelumnya," terangnya.

Untuk menghadapi stres secara mandiri, Dian menyarankan untuk belajar mengelola stres dengan journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan bergizi, dan berolahraga rutin.

Namun, dalam krisis emosional, mendatangi psikolog atau psikiater adalah langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan profesional.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Mandi Bareng Teman, Pelajar Sragen Tewas Tenggelam di Bengawan Solo Ngawi

Jasad korban berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada radius sekitar 50 meter dari titik awal ia dilaporkan tenggelam di kawasan Desa Mantingan, Kecamatan Mantingan.

Penyegaran Organisasi, Kasat dan Kapolsek Probolinggo Dimutasi

Kapolres mengajak seluruh jajaran Polres Probolinggo untuk terus menjaga profesionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai Presisi.

Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Pelaku diketahui merupakan komplotan pembobolan toko lintas kota dan provinsi.

Cuaca Akhir Pekan Jatim: 4 Daerah Diminta Waspada Hujan Lebat

Peta peringatan dini ini merepresentasikan nilai akumulasi curah hujan harian paling tinggi dalam skala satu kabupaten atau kota.

Gol Larin Selamatkan Kanada dari Kekalahan Saat Melawan Bosnia-Herzegovina

Tuan rumah Kanada harus puas bermain imbang 1-1 di laga pembukan grup B Piala Dunia 2026.

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Waspadai potensi turunnya hujan dengan intensitas ringan di beberapa wilayah.