Minggu, 07 Jun 2026 01:16 WIB

Ironi Penegak Hukum Korup, Saat Keadilan Dikunyah Syahwat Kekuasaan

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Minggu, 21 Des 2025 19:46 WIB
Ketua ICMI Jatim, Ulul Albab. (Foto/Dokumentasi Pribadi)
Ketua ICMI Jatim, Ulul Albab. (Foto/Dokumentasi Pribadi)

jatimnow.com - Publik kembali tersentak, lalu marah, lelah, hingga akhirnya mati rasa setiap kali mendengar berita jaksa atau aparat penegak hukum terjaring operasi senyap KPK. Fenomena ini menjadi noda hitam dalam upaya pemberantasan korupsi di penghujung tahun 2025.

Ironi ini terasa menyakitkan karena pelakunya bukan pegawai biasa. Mereka adalah barisan manusia yang setiap hari berkhotbah tentang pasal, keadilan, dan marwah negara. Namun, di balik seragam gagah itu, hukum justru sering kali dibelokkan arahnya demi kepentingan kantong pribadi.

Baca Juga: Tujuh Mahasiswa UNUSA Lulus Program INTENSE Taiwan

Ketua ICMI Jawa Timur sekaligus pengajar pendidikan anti korupsi, Ulul Albab, menggugat realitas pahit ini. Ia mempertanyakan mengapa orang-orang yang paling paham hukum justru menjadi orang yang paling berani melanggarnya.

Selama ini, jawaban klise yang selalu muncul dari lisan pejabat adalah kata "oknum". Seolah-olah korupsi merupakan kecelakaan pribadi yang berdiri sendiri, bukan cerminan kegagalan sistemik di dalam lembaga.

"Jika label oknum terus berulang, mungkin yang salah bukan hanya manusianya, tetapi rumah tempat ia bekerja," ujar Ulul Albab dalam refleksinya.

Dalam sistem hukum kita, aparat memegang kekuasaan yang nyaris tanpa batas. Mereka berdaulat menentukan pasal, mengatur tempo perkara, hingga memutuskan apakah sebuah proses lanjut atau berhenti.

Kekuasaan absolut tanpa pengawalan ketat inilah yang menjadi ladang subur bagi tumbuhnya bibit-bibit culas.

Spanduk "Zona Integritas" dan slogan antikorupsi kini bertebaran di setiap sudut kantor lembaga hukum.

Namun, Ulul menilai reformasi tersebut sering kali hanya menyentuh bentuk, bukan isi. Yang diperbaiki sekadar prosedur birokrasi, sementara relasi kuasa yang timpang tetap dibiarkan gelap.

Ruang gelap ini sering kali lahir dari diskresi atau kewenangan bebas yang tidak transparan. Tanpa adanya keterbukaan, diskresi berubah menjadi ruang transaksi yang sunyi.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kasus MBG Tenggelam

Budaya institusi yang lebih mementingkan "nama baik" daripada kebenaran juga memperburuk keadaan.

Institusi sering kali lebih memilih menyelesaikan pelanggaran secara internal dan diam-diam.

"Padahal, institusi yang sehat bukan yang tampak bersih dari luar, melainkan yang berani membedah boroknya sendiri secara terbuka di depan publik," tegasnya.

Masalah ini juga berakar pada dunia pendidikan. Perguruan tinggi hukum di Indonesia dianggap sangat hebat mencetak aparat yang cerdas secara teknis, namun gagal melahirkan pribadi yang matang secara etis.

Hasilnya adalah aparat yang lebih cepat menemukan celah hukum daripada mendengar suara nuraninya.

Baca Juga: MBG, Korupsi dan Kegagalan Tata Kelola Kebijakan

Dampak dari kerusakan ini jauh lebih mahal daripada nilai uang yang dikorupsi. Keyakinan warga terhadap keadilan sedang dicuri. Masyarakat mulai skeptis dan bertanya-tanya: untuk apa patuh hukum jika keadilan bisa dibeli lewat negosiasi di bawah meja?

Negara tidak boleh hanya merespons dengan konferensi pers atau penangkapan rutin. Ulul Albab menegaskan perlunya keberanian membedah sistem secara total.

Ini mencakup pembukaan proses hukum ke wilayah publik, penguatan pengawasan eksternal, hingga menempatkan etika kekuasaan sebagai pelajaran inti dalam pendidikan hukum.

Keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya secara sungguh-sungguh adalah ujian sesungguhnya bagi reformasi hukum. Tanpa itu, keadilan hanya akan tetap menjadi barang dagangan yang dipajang di etalase kekuasaan.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Peringati Hari Pers Nasional, PWI Tulungagung Siapkan Literasi Media

Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.