Sabtu, 06 Jun 2026 20:28 WIB

Reviu Film Dokumenter KH Achmad Siddiq Telusuri Jejak Intelektual dan Spiritual

  • Penulis : Sugianto
  • | Minggu, 07 Des 2025 08:00 WIB
Reviu film dokumenter KH. Achmad Siddiq di salah satu hotel di Jember. (Foto: Humas UIN KHAS Jember/jatimnow.com)
Reviu film dokumenter KH. Achmad Siddiq di salah satu hotel di Jember. (Foto: Humas UIN KHAS Jember/jatimnow.com)

jatimnow.com - Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember menggelar reviu Film Dokumenter KH Achmad Siddiq salah satu tokoh Jember, yang menelusuri jejak intelektual dan spiritual.

Bertempat di salah satu hotel di Jember, penayangan reviu film dokumenter berdurasi sekitar 3 jam mulai pukul 15.00 - 18.00 WIB itu dihadiri beberapa akademisi, ulama serta pimpinan kampus.

Baca Juga: Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Turut hadir narasumber yang memiliki kedekatan historis dan akademik dengan sosok KH Achmad Siddiq, yakni KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman (putra KH Achmad Siddiq), KH. Ayub Saifur Rijal (keponakan), serta Akhmad Taufiq, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jember.

Sejumlah pimpinan UIN KHAS Jember turut hadir, di antaranya Rektor Hepni, Wakil Rektor I M. Khusna Amal, Wakil Rektor III Khoirul Faizin, serta Kepala Biro AUPK Nawawi.

Film dokumenter yang diputar dalam forum ini menelusuri jejak intelektual dan spiritual KH. Achmad Siddiq (ulama Nahdlatul Ulama (NU) asal Jember yang dikenal luas sebagai pemikir moderasi beragama). 

Film tersebut merekam perjalanan hidupnya sejak masa kecil, pendidikannya di lingkungan pesantren, hingga kiprahnya sebagai tokoh sentral NU dalam merumuskan penerimaan Pancasila sebagai asas organisasi pada 1984.

Narasi film menegaskan pandangan KH. Achmad Siddiq bahwa agama berfungsi sebagai guidance (pedoman etis dan spiritual) yang harus membimbing akal, bukan sebaliknya. 

Dalam konteks relasi agama dan negara pada masa Orde Baru, ia tampil sebagai jembatan yang menenangkan ketegangan antara umat Islam dan negara, dengan menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan bukan pula akidah, melainkan landasan bersama untuk berbangsa dan bergerak.

Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni menilai KH. Achmad Siddiq sebagai pemikir yang pemikirannya melampaui zamannya. “Beliau berhasil memadukan spiritualitas dan rasionalitas, iman dan ilmu, serta menghadirkan etika sosial ke dalam wacana keagamaan,” ujar Hepni. 

Baca Juga: Legislator PKB Salurkan Ratusan Hewan Kurban di Jember dan Lumajang

Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan KH. Achmad Siddiq tetap relevan dalam konteks pendidikan Islam modern yang menekankan moderasi, keterbukaan intelektual, dan integrasi ilmu.

Sementara itu, Wakil Rektor I, M. Khusna Amal menjelaskan pembuatan film dokumenter ini merupakan tanggung jawab moral UIN KHAS Jember sebagai institusi yang menyandang nama besar KH. Achmad Siddiq. 

Media film dipilih karena dinilai efektif untuk menjembatani generasi yang hidup di era KH. Achmad Siddiq dengan generasi muda masa kini. Film ini, kata dia, masih terbuka untuk penyempurnaan sebelum diluncurkan ke publik luas dan disosialisasikan ke pesantren, madrasah, dan masyarakat.

Masukan substantif disampaikan para reviuwer. KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman menekankan pentingnya menampilkan dimensi kepemimpinan personal KH Achmad Siddiq, kemampuannya memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain, sebagai pesan moral yang kuat bagi publik. 

KH. Ayub Saifur Rijal menyoroti relevansi sikap menjaga jarak dari politik praktis dan kemampuan bersikap tegas dalam prinsip namun lentur dalam pendekatan, nilai yang menurutnya sangat penting bagi generasi muda.

Baca Juga: Demi Mendapat Uang Dari Orang Tua, Remaja di Jember Rekayasa Pembegalan

Adapun Akhmad Taufiq menggarisbawahi aspek sinematografis dan historis. Ia menyarankan agar film lebih kuat menampilkan suasana sosial-politik era 1980-an, termasuk ketegangan antara negara dan kelompok keagamaan, serta memperluas perspektif dengan menghadirkan respons dari kalangan non-Muslim. 

Langkah ini, menurutnya, penting untuk menegaskan posisi KH. Achmad Siddiq sebagai tokoh nasional dan memperkuat legitimasi sejarahnya.

Forum reviu ini menegaskan bahwa film dokumenter KH. Achmad Siddiq bukan sekadar dokumentasi biografis, melainkan medium refleksi atas relasi agama, negara, dan kemanusiaan. 

Lebih dari itu, film ini diposisikan sebagai warisan intelektual yang diharapkan dapat terus menginspirasi generasi mendatang, di Jember, Indonesia, dan dunia Islam secara lebih luas.

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.

Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

BMKG imbau warga selalu waspada potensi perubahan cuaca yang bisa terjadi kapan pun.