Kamis, 18 Jun 2026 06:00 WIB

Cipayung Plus Jatim Tolak Gelar Pahlawan untuk Soeharto

  • Penulis :
  • | Selasa, 11 Nov 2025 08:59 WIB
Foto: Perwakilan organisasi mahasiswa di jawa timur menolak gelar oahlawan untuk Soeharto. (Rizky/jatimnow.com)
Foto: Perwakilan organisasi mahasiswa di jawa timur menolak gelar oahlawan untuk Soeharto. (Rizky/jatimnow.com)

jatimnow.com–Koalisi organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Cipayung Plus Jawa Timur menolak keras keputusan pemerintah yang memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Mereka menilai keputusan tersebut mencederai keadilan sejarah dan nurani bangsa.

Penolakan itu disampaikan dalam konsolidasi Cipayung Plus Jatim di Surabaya, Senin (10/11/2025). Dalam pertemuan itu, perwakilan dari sembilan organisasi mahasiswa — GMNI, HMI, PMII, IMM, GMKI, KAMMI, PMKRI, KMHDI, dan SEMMI — menyatakan sikap tegas menolak gelar tersebut dan mendesak Presiden Republik Indonesia segera mencabut keputusan yang dinilai keliru itu.

Baca Juga: Kontroversi Soeharto, Bamsoet Ungkap Sisi Lain yang Belum Banyak Diketahui

Menurut koalisi tersebut, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto bertentangan dengan nilai moral, historis, dan yuridis, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Ketua GMNI Jawa Timur, Hendra Prayogi, menilai keputusan pemerintah sebagai bentuk kemunduran moral bangsa. Penghargaan negara seharusnya hanya diberikan kepada tokoh yang memiliki integritas, moralitas tinggi, dan bebas dari catatan kelam sejarah.

“Kita tidak bisa menutup mata dari fakta bahwa era Soeharto penuh dengan pelanggaran HAM, pembungkaman demokrasi, dan korupsi. Memberinya gelar pahlawan berarti menistakan korban dan mengaburkan sejarah kelam bangsa ini,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Badko HMI Jatim, M. Yusfan Firdaus, menegaskan bahwa keputusan tersebut bertentangan dengan prinsip hukum yang tertuang dalam undang-undang.

“Undang-undang jelas menyebut calon penerima gelar tidak boleh memiliki catatan hitam. Soeharto justru identik dengan praktik KKN dan represi terhadap rakyatnya. Memberinya gelar pahlawan adalah bentuk pelecehan terhadap hukum dan nurani publik,” tegasnya.

Dari barisan Muhammadiyah, Devi Kurniawan, Ketua DPD IMM Jatim, menyebut langkah pemerintah mengabaikan keadilan sejarah serta penderitaan korban rezim Orde Baru.

Baca Juga: Kata Akademisi soal Gelar Pahlawan Nasional pada Soeharto

“Kita tidak menafikan peran Soeharto dalam pembangunan ekonomi, tetapi luka korban Orde Baru belum pernah disembuhkan. Memberikan gelar pahlawan sebelum ada rekonsiliasi tuntas adalah pengkhianatan moral bangsa,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PKC PMII Jatim, Muhammad Ivan Akiedozawa, menilai keputusan pemerintah sebagai tamparan terhadap semangat reformasi 1998.

“Soeharto adalah simbol otoritarianisme. Reformasi lahir dari perlawanan terhadap kediktatoran yang ia bangun. Mengangkatnya sebagai pahlawan berarti mengkhianati perjuangan mahasiswa dan rakyat,” ungkapnya.

Kelompok Cipayung Plus Jatim menilai bahwa langkah pemerintah tersebut tidak hanya melukai hati para korban rezim Orde Baru, tetapi juga merusak kredibilitas negara dalam menegakkan nilai keadilan dan moralitas publik.

Baca Juga: Golkar Jatim Kembali Usulkan Soeharto dapat Gelar Pahlawan Nasional

Koalisi mahasiswa itu kompak mendesak Presiden agar mencabut gelar Pahlawan Nasional Soeharto serta meminta Dewan Gelar dan Pemerintah menegakkan kriteria kepahlawanan secara objektif sesuai amanat undang-undang. Melalui sikap ini, Cipayung Plus Jatim menegaskan komitmen mahasiswa untuk tetap berdiri di garis moral bangsa dan mengawal kebenaran sejarah agar tidak dikaburkan oleh kepentingan politik.

“Negara tidak boleh menghapus sejarah kelam. Penghargaan harus didasarkan pada prinsip keadilan dan kebenaran sejarah, bukan nostalgia keberhasilan pembangunan semata,” pungkasnya.

Reporter: Fatkur Rizky

Editor : Bramanta
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.