Jumat, 24 Jul 2026 23:36 WIB

Pajak Tambang vs PPN, Mana yang Lebih Adil?

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Selasa, 09 Sep 2025 21:29 WIB
Selama ini, kebijakan pajak dinilai kurang adil dan cenderung membebani masyarakat. (Foto: Ilustrasi/Superai)
Selama ini, kebijakan pajak dinilai kurang adil dan cenderung membebani masyarakat. (Foto: Ilustrasi/Superai)

jatimnow.com – Di tengah isu kenaikan PPN yang membebani masyarakat, lembaga kajian Transisi Bersih justru mendorong pemerintah untuk lebih fokus meningkatkan pajak dari industri ekstraktif, seperti nikel dan batu bara. Mereka menilai, potensi pendapatan negara dari sektor ini jauh lebih besar dan lebih adil.


Direktur Eksekutif Transisi Bersih, Abdurrahman Arum, menyatakan bahwa momentum pergantian Menteri Keuangan menjadi kesempatan emas untuk membenahi sistem perpajakan nasional. Selama ini, kebijakan pajak dinilai kurang adil dan cenderung membebani masyarakat.

"Jika PPN naik menjadi 12%, dampaknya pada pendapatan negara tidak seberapa dibandingkan jika kita mengoptimalkan pajak dari sektor ekstraktif. Potensi pajak dari nikel dan batu bara itu jauh lebih besar," tegas Abdurrahman Arum di Jember, Selasa (09/9/2025).

Transisi Bersih mengungkap, bahwa wacana kenaikan PPN menjadi 12�n kenaikan pajak daerah akibat pengurangan dana transfer telah memicu penolakan dari masyarakat. Mereka menilai kebijakan perpajakan saat ini tidak adil dan menuntut agar PPN diturunkan serta Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dinaikkan.

Hasil riset Transisi Bersih menunjukkan bahwa kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah dan insentif besar-besaran untuk pembangunan smelter justru memicu over investment dan over production di sektor nikel.

Baca Juga: Awasi Gaji Pekerja, DJP Jatim III & BPJS Ketenagakerjaan Integrasikan Data

Akibatnya, kapasitas smelting nikel melonjak 15 kali lipat hanya dalam tujuh tahun, menyebabkan surplus produksi, menekan harga nikel dunia, dan mempercepat penipisan cadangan nikel Indonesia.

"Selama ini, tax holiday, pembebasan bea masuk, dan subsidi energi yang berlebihan justru menciptakan ketidakadilan. Perusahaan asing menikmati keuntungan, sementara masyarakat menanggung dampak lingkungan dan sosial," jelas Rahman.

Transisi Bersih berharap, dengan menteri keuangan yang baru, pemerintah dapat lebih serius menggarap potensi pajak dari industri ekstraktif yang selama ini kurang optimal, daripada terus mengandalkan PPN yang membebani masyarakat.

Baca Juga: Pebisnis Properti Surabaya Bongkar Strategi Pajak Legal via Propertypreneurs

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.