Senin, 22 Jun 2026 11:37 WIB

Foto: Ulur Wiji, Batik Kontemporer untuk Gaya Hidup Berkelanjutan

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Selasa, 26 Agu 2025 11:27 WIB
Sejumlah pekerja menyelesaikan proses batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)
Sejumlah pekerja menyelesaikan proses batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

jatimnow.com - Di tengah gempuran tren fesyen modern, sekelompok pemuda dari Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, hadir dengan inovasi yang menggabungkan tradisi, keberlanjutan, dan semangat pemberdayaan.

Ulur Wiji, sebuah perusahaan sosial yang bergerak di bidang eco-fashion, hadir dengan produk batik ramah lingkungan yang memukau.

Baca Juga: Karyawan BPJS Ketenagakerjaan Sidoarjo Gotong Royong Tanam Pucuk Merah

Dengan motto "Dari Desa Bisa Berdaya", Ulur Wiji membuktikan bahwa lokasi geografis bukanlah penghalang untuk berkarya dan berdaya saing di pasar global.

Pekerja menyelesaikan proses batik dengan motif bawang, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pekerja menyelesaikan proses batik dengan motif bawang, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Mereka menawarkan beragam produk batik, mulai dari batik tulis, batik cap, hingga jumputan, semuanya dibuat dengan bahan dan pewarna alami.

Nasta dan Joko, pendiri Ulur Wiji, mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kelestarian batik sebagai identitas bangsa.

"Kita semua tahu bahwa batik adalah identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Jadi, sebagai pemuda, kita memiliki tanggung jawab untuk mencintai budaya kita," ujar Nasta.

 Pekerja menyelesaikan proses menjahit batik pesanan pelanggan, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com) Pekerja menyelesaikan proses menjahit batik pesanan pelanggan, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Mereka ingin mengubah persepsi bahwa batik hanya cocok untuk acara formal, tetapi juga relevan untuk gaya kasual sehari-hari.

Selain melestarikan budaya, Ulur Wiji juga sangat peduli terhadap lingkungan. "Kami peduli terhadap lingkungan dalam dua hal. Pertama tentang bahan baku, kami hanya menggunakan bahan alami dari tumbuhan," jelas Joko.

Bahan-bahan seperti rayon, tencel, katun, dan linen dipilih karena merupakan serat alami yang lebih ramah lingkungan.

Pekerja menyiapkan bahan pewarnaa alami untuk batik, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pekerja menyiapkan bahan pewarnaa alami untuk batik, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Proses produksi batik Ulur Wiji juga dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Mereka berupaya mengurangi penggunaan air dan menerapkan pengolahan air limbah agar aman bagi lingkungan.

Ulur Wiji tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Semua pengrajin mereka adalah pemuda dari Desa Pandankrajan.

"Kami memiliki mimpi bahwa kerajinan dari tangan mereka dapat menjangkau dunia. Pemuda dari desa memiliki kesempatan yang sama untuk sukses dan berdaya," kata Nasta dengan penuh semangat.

 Pekerja menyelesaikan desain batik kontemporer, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com) Pekerja menyelesaikan desain batik kontemporer, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Baca Juga: PGN Pasok Gas Bumi ke RSUP Sardjito, Dorong Green Hospital

Salah satu daya tarik utama Ulur Wiji adalah desain batiknya yang kontemporer. Mereka berhasil memadukan motif tradisional dengan sentuhan modern yang sederhana dan timeless.

"Kami tahu, bahwa selama ini batik identik dengan kuno dan tradisional. Ulur Wiji menghadirkan batik sebagai motif modern dengan desain yang sederhana dan tak lekang oleh waktu," jelas Joko. Hal ini membuat produk Ulur Wiji cocok untuk berbagai kalangan usia dan acara.

Pekerja merapikan beragam produk batik kontemporer, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pekerja merapikan beragam produk batik kontemporer, di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Ulur Wiji mengajak masyarakat untuk mendukung budaya Indonesia, lingkungan, dan pemberdayaan pemuda desa dengan memakai produk mereka.

"Tunjukkan dukungan Anda untuk budaya Indonesia, lingkungan, dan pemberdayaan pemuda desa dengan memakai #IWEARULURWIJI!" ajak Nasta dan Joko.

Pekerja menjemur batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pekerja menjemur batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Dengan kombinasi antara pelestarian budaya, produk ramah lingkungan, pemberdayaan pemuda, dan desain kontemporer, Ulur Wiji menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda untuk berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan.

 

Baca Juga: Green Port PTP Nonpetikemas Prioritaskan Kesehatan Pekerja

Pekerja menyelesaikan proses pewarnaan batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pekerja menyelesaikan proses pewarnaan batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Pendiri Ulur Wiji, Nasta Rofiko (tengah) memberikan pengarahan pada pekerja di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pendiri Ulur Wiji, Nasta Rofiko (tengah) memberikan pengarahan pada pekerja di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Pekerja menjemur batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Pekerja menjemur batik di Workshop Ulur Wiji, di Desa Pandankrajan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Ulur Wiji tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Semua pengrajin mereka adalah pemuda dari Desa Pandankrajan. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Ulur Wiji tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Semua pengrajin mereka adalah pemuda dari Desa Pandankrajan. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Editor : Tim Jatimnow
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.