Selasa, 16 Jun 2026 15:02 WIB

Era AI: SP IMPPI Desak Transisi Adil, Tolak Pekerja Dikorbankan

L20 Summit 2025 resmi ditutup hari ini. Foto: SP IMPPI for JatimNow.com
L20 Summit 2025 resmi ditutup hari ini. Foto: SP IMPPI for JatimNow.com

jatimnow.com - L20 Summit 2025 resmi ditutup hari ini dengan catatan penting terkait dampak era digital dan kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja. 

Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (SP IMPPI),
William Yani Wea, dalam pidato penutupnya menyuarakan keprihatinan atas nasib jutaan pekerja yang terdampak otomatisasi dan mendesak adanya transisi yang adil.

"Kita berdiri di titik balik sejarah," tegas Willy, sapaan akrab William Yani Wea. 

Baca Juga: Delegasi Pekerja Indonesia di Jenewa Soroti Nasib Rohingya

Ia mengungkapkan realita pahit di Indonesia di mana pekerjaan menghilang akibat otomatisasi. 

"Kasir digantikan mesin, sopir dikendalikan algoritma, dan pekerja kantoran diberhentikan atas nama restrukturisasi digital. Ini bukan inovasi, ini eksploitasi berwajah modern!" serunya.

SP IMPPI menuntut tiga hal utama:  pertama, transisi yang adil.  Setiap pekerja yang terdampak harus mendapatkan dukungan berupa pelatihan ulang, peningkatan keterampilan, dan jaminan pekerjaan baru yang layak.

"Tak seorang pun boleh dikorbankan demi efisiensi," tegas Willy.

Kedua, tata kelola teknologi yang adil.  Willy menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan algoritma yang menentukan nasib manusia. 

Baca Juga: William Yani Wea dan Tonny Pangaribuan Wakili Indonesia di ILC 114

"Keadilan tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada mesin," tambahnya.  SP IMPPI menyerukan regulasi yang kuat untuk memastikan hal ini.

Ketiga, organisasi pekerja yang inklusif.  SP IMPPI memperjuangkan perlindungan hukum, hak berserikat, dan jaminan sosial bagi semua pekerja, termasuk pekerja gig, pekerja platform, dan freelancer.

"Tidak boleh ada yang tertinggal," tandasnya.

Willy, putra tokoh buruh Jacob Nua Wea,  mengajak pemerintah, institusi, dan perusahaan untuk tidak mengabaikan mereka yang membangun ekonomi. 

Baca Juga: Unusa Gandeng KCGI Jepang Garap Sistem Kuliah Berbasis AI

Digitalisasi, menurutnya, harus diarahkan untuk melayani manusia, bukan menggantikannya. 

"Pekerja bukan barang sekali pakai. Hak bukan pilihan dan keadilan bukan tawar-menawar," tutup Willy dengan lantang, menyerukan solidaritas global dalam menghadapi tantangan ini.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.